);

Kenapa Saya Mau Maju Jadi Kepala Daerah

(Wawancara Eksklusif Dengan KH. Syamsul Ismain, Lc.)

Sosok yang satu ini sudah sangat terkenal di Sumbawa Barat. Tapi akhir-akhir ini dia menjadi buah bibir dan begitu fenomenal. Maklum dirinya yang selama ini dikenal sebagai Dai dan Tokoh Agama, tiba-tiba ikut mendaftar sebagai Bakal Calon Wakil Bupati lewat penjaringan yang dilaksanakan PDIP untuk Pilkada tahun depan.

Padahal sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa figur ini sangat dekat dan akrab dengan penguasa daerah ini. Semenjak pemerintahan Bupati KH Zulkifli Muhadli hingga Pemerintahan Bupati H W Musyafirin, KH Syamsul Ismain Lc, bisa dibilang telah masuk dalam lingkaran kekuasaan. Pada tahun 2012, Kyai Syamsul didaulat sebagai Ketua MUI KSB, hingga sekarang ia masih menjabat. Dan sederet jabatan penting yang bersinggungan dengan kekuasaan hingga kini masih dipikulnya.

Untuk mengetahui lebih mendalam tentang alasan dan motivasi Kyai Syamsul masuk gelanggang politik, terlebih ingin menjadi Kepala Daerah, media ini meminta waktunya untuk diwawancarai secara khusus. Selasa (24/9), Hardoni, Pemimpin Redaksi KOBAR, berkunjung ke kediamannya di kompleks Pondok Pesantren Himmatul Ummah, Desa Sapugara Bree, Kecamatan Brang Rea.

Kyai Syamsul dan Hardoni.

Diterima dengan tangan terbuka, dan dalam suasana penuh keakraban, Ulama kelahiran Sapugara Bree, 39 tahun silam, kepada Hardoni, menuturkan latar belakang kenapa dirinya mau maju menjadi Kepala Daerah. Kenapa dia memilih maju sebagai Wakil Bupati, tidak sebagai Bupati. Apa visi misinya. Kenapa melamar ke PDIP, tidak kepada Parpol lain. Bagaimana dia menanggapi isu miring tentang dirinya. Bagaimana hubungan dirinya dengan Bupati dan Wakil Bupati yang sedang menjabat, setelah dirinya mendaftar sebagai bakal calon Wakil Bupati dari PDIP. Berikut hasil wawancara Hardoni dengan KH Syamsul Ismain Lc.

Assalamualaikum Pak Kyai, apa benar Bapak sudah mendaftar penjaringan bakal calon Wakil Bupati untuk Pilkada 2020 di PDIP?

Iya, benar. Tanggal 22 September, kami telah mendaftar. Saya mendaftar sebagai bakal calon Wakil Bupati.

Kenapa Pak Kyai melamar ke PDIP? Padahal secara ideologi, PDIP kan “merah”. Kenapa nggak ke PAN, ke PBB, atau kemana, yang “hijau-hijau” itu Pak Kyai?

Saya melihat, PDIP ini punya komitmen Pak. Saya menilai, semua partai bagus Pak. Tergantung orang yang mengisinya. Tidak ada partai yang tidak bagus. Karena kita lihat, misalnya, di PAN, kita mengatakan dia partai bagus, tapi ada juga yang kena tangkap. Di PKS, misalnya, partainya Islami, tapi ketuanya juga kena tangkap Pak. Jadi menurut saya, partai ini hanya sekedar wadah.

Kalau kita punya kesempatan, punya ruang untuk mengisi di partai itu, kenapa tidak?. Karena dia tujuannya sama, untuk membangun Indonesia. Bagi saya, tidak ada bedanya PDIP maupun yang lain. Yang saya lihat itu, apakah dia membuka diri atau tidak. Sampai saat ini kenapa saya memilih PDIP. Karena di satu sisi, PDIP ini dia sudah siap untuk memajukan calonnya, karena dia sudah sampai ke ambang batas itu. Yang kedua, tadi PDIP yang sudah membuka penjaringan. Kalau partai lain, kan belum.

Kyai Syamsul saat mendaftar Penjaringan PDIP.

Berarti belum ada Partai Politik lain yang melamar atau membuka sinyal ke Pak Kyai ya?

Kalau yang membuka sinyal banyak Pak. Ada yang buka sinyal komunikasi, sudah banyak kita berkomunikasi. Tapi masalahnya sekarang kan, dia tidak bisa mengusung sendiri calonnya Pak. Dia harus berkoalisi. Nah, kalau kita berkoalisi, ini kan agak rumit. Di satu sisi kita harus mencari partai untuk berkoalisi, kemudian yang kedua, kita harus cari pasangan.

Kenapa Pak Kyai memilih ingin menjadi Kepala Daerah? Padahal toh selama ini Bapak telah berada di dalam lingkaran kekuasaan.

Tentunya kita ingin KSB yang lebih baik. Setiap generasi terbaik KSB ini, ingin bagaimana daerahnya bisa lebih baik. Kemudian dari awal kita mendukung Pak Kyai Zul, ketika beliau maju jadi Bupati. Dari periode awal sampai periode yang kedua. Kami nilai, beliau cukup memberikan kontribusi terbaik dalam kepemimpinannya. Ketika restu beliau selanjutnya ke Pak Haji Firin. Ya, kami juga memberikan dukungan. Kita berikan apa pun, baik secara moril maupun yang lain-lain.

Kemudian kita melihat dalam perjalanan beliau ini sudah bagus. Kemudian ada beberapa hal mungkin yang sekiranya kalau kita berada di dalam birokrasi ini akan lebih cepat tercapai, ketimbang kita bersuara dari luar sekedar untuk menasehati. Dimana Khittah KSB ini kan ingin Kabupaten Fitrah. Fitrah itu artinya sejahtera batinnya, sejahtera juga lahirnya. Dalam artian, bagaimana keimanan masyarakat ini terus bertambah dan meningkat. Kemudian kesejahteraan secara fisiknya juga demikian. Visi saya membangun Peradaban KSB, bukan hanya sekedar membangun KSB.

Kyai Syamsul bersama H W Musyafirin.

Kenapa baru Pilkada ini, tidak pada Pilkada yang lalu? Padahal nama Bapak sempat santer terdengar pada Pilkada 2015. Lantas kenapa memilih untuk menjadi Bakal Calon Wakil Bupati, tidak sebagai Bakal Calon Bupati Pak Kyai?

Saya dari awal memang tidak berniat untuk langsung terjun ke sana. Kemudian kita melihat animo masyarakat, dorongan tokoh-tokoh masyarakat, dan teman-teman ini, agar kami bisa mengambil bagian dari pemerintahan ini. Kemudian kalau sebelum-sebelumnya ini, Iya… karena memang usia saya masih muda. Kemudian kita baru juga berada di KSB. Jadi tentunya kita menggali pengalaman dulu. Karena untuk bisa mengurus KSB ini, tentu harus sarat dengan pengalaman, dengan penghayatan, kemudian kita belajar. Sehingga nanti kalau pun masyarakat mempercayai kita tidak asal-asalan. Karena KSB ini kan kapal besar, jadi tentu penumpangnya pasti akan mempercayakan itu kepada Kapten yang memang telah punya kapasitas dan kapabilitas.

Nah, dari perjalanan kita amati di masyarakat, ada hal-hal yang memang masih belum tercapai. Misalnya, dari sisi kesejahteraan. Kemudian implementasi peradaban fitrah yang belum sampai kepada istilahnya yang kaffah. Maka kami berniat, berhajat, untuk mengisi kekosongan itu. Kemudian dari sisi ini, kami melihat Pak Haji Musyafirin sudah berjalan cukup bagus. Dan Pak Fud juga berjalan cukup bagus. Cuman kan setiap orang punya mekanisme, punya impian yang berbeda.

Kemudian kami merenung dan berpikir, kalau sekiranya keinginan kami ini bisa disinergikan dengan apa yang telah digagas oleh Pak Bupati yang sekarang, ya alangkah lebih indahnya begitu. Maka kami memprioritaskan untuk mengambil posisi nomor dua Pak. Kebetulan posisi nomor dua ini, di PDIP terbuka ruang. Dalam artian, bahwa mereka membuka penjaringan pencalonan. Dari sisi tiket, PDIP sudah mencukupi dari sisi kursinya. Kemudian ketika dia membuka penjaringan, berarti mereka belum punya paket untuk diusung. Atau belum jadi. Andaikan sudah jadi, maka tentu mereka tidak membuka penjaringan. Kami konfirmasi ke PDIP, mereka menjawab, bahwa kesepahaman koalisi antara PPP dengan PDIP untuk mengusung kembali F3 belum final.

Baca Juga :  Siswa SDN 10 Taliwang Jadi D’Models Indonesia 2016

Maka dengan demikian, ya kami masukkan diri kami sebagai salah satu alternatif, sehingga masyarakat nanti bisa memilih dari sekian orang yang punya gagasan, punya keberanian untuk membawa KSB ini ke lebih baik. Maka kami sodorkan alternatif itu. Dengan kami sampaikan visi misi yang kami bawa, kami usung, masuklah ia ke PDIP. Dan sekaligus nanti akan ditawarkan ke Pak Bupati. Dan Pak Bupati nanti tinggal memilah dan memilih, kira-kira mana yang kedepannya ini, bisa membuat KSB lebih cepat.

Kalau sekarang baik Pak, tidak ada yang kurang. Kita tidak mencela, atau merendahkan. Pak Wakil yang sekarang, lincah, dan bagus. Tapi mungkin kita punya pandangan yang berbeda dalam memberikan solusi terbaik terhadap persoalan di Kabupaten Sumbawa Barat. Dan saya secara etika politik, tetap masih menghargai Pak Bupati. Karena beliau adalah orang yang kita angkat dulu, dan kita dukung. Politik kan harus ada etikanya.

Kyai Syamsul bersama Pimpinan Pondok Pesantren Se-KSB.

Kenapa Pak Kyai tidak melanjutkan saja dukungan kepada pasangan Firin-Fud, seperti Pilkada 2015?

Kita kan mendukung Pak Haji Musyafirin dulu Pak. Jadi siapapun pasangannya dulu, kita dukung Pak. Saat ini dan kedepan, saya ingin membantu beliau. Saya ingin membantu Pak Bupati. Karena kita memang sudah satu gerbong. Kalau kita mendukung dari luar, kita tidak bisa menentukan. Kita tidak bisa lebih banyak berbicara tentang mempengaruhi kebijakan yang ada. Tapi kalau kita masuk, berbeda. Kalau di luar kita hanya bisa memberi nasehat dan saran. Namanya juga nasehat, ketika dibutuhkan tentu baru diminta. Itu pun kalau cocok. Kalau tidak cocok, kan berlalu begitu saja.

Tentu berbeda kalau kita sama-sama memegang peranan. Karena di situ ada tupoksi masing-masing. Tentunya tupoksi ini akan berjalan kalau kita punya wewenang. Misalnya, tupoksi pengawasan. Tupoksi pengawasan terhadap program yang dicanangkan Pak Bupati kan berada di Wabupnya. Pengawasan birokrasi, pengawasan implementasi program di masyarakat. Semua program ini sudah bagus Pak, tapi implementasinya di masyarakat yang masih ada persoalan.

Contohnya, tidak sinkronnya antara tupoksi Tim PDPGR dengan RT, dengan Dusun, dengan Desa. Sehingga di masyarakat sedikit ada hambatan. Kalau ini bisa dijembatani, maka nanti semua stakeholder yang ada bisa disinergikan. Maka akan terjadi ketenangan di masyarakat. Karena tanpa ketenangan, maka kesejahteraan susah untuk didapatkan.

PDPGR itu pak, programnya bagus, tinggal disinergikan saja. Pemahaman disinergikan, sehingga mana yang sekiranya tersumbat itu yang berusaha kita buka. Program itu akan sukses, ketika programnya sejalan dengan implementasinya. Yang agak miss itu kan Tim PDPGR dengan Dusun, RT, dan Desa. Nah, kalau memang nanti PDPGR akan dilanjutkan sama Pak Bupati, mungkin kita akan pakai pola yang berbeda. Pola pendekatannya ke masyarakat yang berbeda. Sehingga tupoksinya jelas. Tidak saling mengambil wewenang yang lain. Supaya tidak terjadi ketersinggungan.

Saya melihat selama ini ada kelemahan pengawasannya ke bawah. Kalau Pak Bupati ini  tatarannya ke atas. Mencari dana, kebijakan, dan program. Pengawasan terhadap dinas, dan kontrol di lapangan, di Wabup. Kalau kita bisa menjalankan tupoksi kita masing-masing, Insya Allah roda pemerintahan akan berjalan bagus. Dan program kerja yang telah disusun bisa gol.

Kyai Syamsul dan Isteri.

Mohon Maaf Pak Kyai. Semenjak Bapak bersuara ingin maju jadi Kepala daerah, sepertinya, ada selentingan miring yang sengaja dihembuskan, ditujukan ke Bapak. Bahwa idealnya orang yang menjadi kepala daerah itu, mesti sosok yang punya latar belakang dan pengalaman di Pemerintahan. Sedangkan Pak Kyai diketahui publik, selama ini sebagai Ulama dan Pimpinan sebuah Pondok Pesantren. Bagaimana Pak Kyai menanggapi itu?

Kan tidak semua orang lahir, langsung jadi birokrat Pak. Semua orang itu lahir dari belajar. Saya rasa tidak ada yang sesuai dengan jurusan. Kalau kita lihat Pak Wabup sekarang, beliau kan bukan orang birokrat. Beliau kan orang teknik. Sarjana teknik dan politisi. Kemudian Pak Haji Musafirin juga latar belakangnya dari peternakan. Kalau kita bicara tentang itu, kan tidak ada yang bisa mengukur baju orang lain. Kalau kita mau belajar, tidak ada yang tidak bisa. Apalagi sekarang, dunia begitu terbuka. Kita bisa membaca, walaupun jurusan kita agama. Tinggal ketekunan kita dalam membaca, dan menganalisa. Dan Saya pikir, untuk mengurus KSB ini lebih mudah daripada mengurus Pondok Pesantren Pak. Pemerintah KSB ini kan punya dana, punya dinas yang tinggal kita perintah dan atur saja kan. Kalau ngurus Pondok itu, kita yang cari dananya. kita yang ngurus anaknya, kita yang lakukan semuanya.

Jadi kalau seorang birokrat dengan latar belakang Pondok Pesantren itu sudah siap. Sebab selama di Pesantren mereka sudah dididik berorganisasi. Dan kita juga di mahasiswa dulu aktif di organisasi. Saya menjadi ketua mahasiswa Nusa Tenggara dan Bali dulu di Mesir. Jadi kita aktif. Hubungan komunikasi kita dengan KBRI, dengan kementerian-kementerian. Dengan kementerian dalam negeri dan luar negeri. Kita juga berkomunikasi dengan kedutaan-kedutaan negara lain.

Di agama juga jangan dianggap tidak ada birokrasinya pak. Di agama itu lengkap birokrasinya. Kita baca sejarah. Membaca sejarah nabi. Apakah Nabi dulu pernah belajar undang-undang? Tidak!. Rasulullah SAW memerintah dengan modal Al-Qur’an dan Hadisnya. Kemudian negara Islam yang ada sampai tahun 1924, tidak ada yang belajar nilai birokrasi dari yang lain. Semuanya belajar dari Al-Qur’an. Nah… Sekarang kira-kira, birokrasi apa yang kita tidak bisa memahaminya.

Baca Juga :  Obyek Wisata di KSB Butuh “Sinyal HP”

Tentang program Dinas, SKPD yang ada dalam pemerintahan. Kami tentu akan membaca dan mengamati. Sehingga begitu kita tahu persoalannya, maka kita mencoba memberikan solusi, itulah birokrasi. Di birokrasi yang ada saat ini saya lihat ada persoalan. Persoalan birokrasi itu lah yang menjadi salah satu alasan saya untuk masuk ke Pemerintahan. Saya ingin reformasi birokrasi. Orang yang ditempatkan pada suatu posisi atau jabatan mesti harus profesional dan proporsional.

Kyai Syamsul Bersama Bupati, Kapolres, dan Sekda.

Kayaknya Pak Kyai ingin mengatakan, bahwa birokrasi di KSB selama ini ada persoalan?

Iya. Kalau saya lihat di dinas-dinas ini, lebih banyak, bagaimana serapan anggarannya selesai. Itu dianggap sukses. Tapi bagi saya itu tidak sukses. Baru dia sukses, kalau serapan anggarannya selesai, dan dampaknya dirasakan oleh masyarakat. Misalnya, Kartu Pariri Bariri. Sudah ada sekian Miliar anggaran yang telah gelontorkan Pemerintah. Mestinya harus dievaluasi secara mendalam dampak dan pengaruhnya bagi kesejahteraan masyarakat. Apakah ekonomi daerah ini semakin meningkat atau stagnan. Atau bahkan merosot. Kalau dia stagnan, atau apalagi…. dia menurun, mesti segera dicarikan solusinya. Sebab stagnan saja itu sudah kegagalan. Kami menilai program Kartu Bariri dan kartu Pariri ini baik, tinggal perlu dikemas lebih baik lagi. Terutama dalam hal kontrol dan evaluasi.

Berarti persoalan APBD KSB yang disorot publik akhir-akhir ini, ada benarnya juga ya?. Sedemikian besar jumlah APBD setiap tahun, Triliunan bahkan. Tapi dampak ekonominya di masyarakat tidak begitu signifikan. Apa begitu Pak Kyai?

Tidak juga Pak. Kalau saya melihat itu, persoalannya ada di tata kelolanya saja. Dia besar atau kecil itu tergantung tata kelola. Kalau tata kelolanya bagus, walaupun kecil, pasti dampaknya lebih bagus. Maka saya lebih cenderung masyarakat ini jangan dikasih ikan. Saya lebih cenderung kita kasih pancing, biar dia bisa mancing sendiri. Kalau kita kasih ikan maka tangannya tetap di bawah Pak. Kemiskinan ini nggak akan tuntas, kalau kita berikan bantuan tunai. Itu namanya mengajak dia jadi pengemis. Tapi harus kita berdayakan. Kartu beriri itu kan memberikan pancing sebenarnya. Tapi pancingnya tidak dikontrol. Dia mancing dimana, bagaimana tangkapan ikannya, bagaimana dia goreng ikannya. Ini kan harus dikontrol oleh pemerintah. Diperbaiki. Misalnya, kartu bariri sekarang diberikan kepada sekian orang peternak. Bagaimana peternakannya, sukses atau tidak. Sakit atau tidak. Bagaimana perkembangannya, apa yang kurang. Sehingga nanti bantuan itu tidak kepada orang yang sama.

Tetapi pada tahun berikutnya dia sudah bisa menjadi pemberi. Kalau dia bisa berkembang biak, dia jadi pemberi. Tidak lagi jadi pengemis kan. Sehingga yang lain, yang miskin yang lain, bisa berdaya. Nah, sekarang ini dia tidak bisa berkembang. Begitu datang, entah dia sakit, entah dia mati, ya selesai Pak. Datang pemeriksaan, dari  BPK. Yang tahun kemarin, diperiksa tahun ini. Begitu selesai, tahun depannya, sudah nggak diperiksa lagi. Kan selesai sudah itu. Bagaimana dia bisa berdaya, namanya masyarakat ini kan, bukan dibangun ekonominya saja, tapi mentalnya juga harus dibangun. Menjadi mental pengusaha, mental wirausaha.

Sehingga inilah yang akan kami coba, bagaimana agar masyarakat ini bisa sejahtera dan berdaya saing. Kan sekarang kita banyak tanah nganggur. Kenapa misalnya dari dinas ini tidak dikawal terus?. Bahkan sepetak tanah di Lombok itu lebih berharga dari satu hektar tanah di Sumbawa. Kalau di Lombok satu petak ditanam kangkung, dia bisa pergi haji. Tapi satu hektar di Sumbawa ini, jangankan pergi haji, sekolah anaknya saja nggak mampu. Apa bedanya Lombok dengan Sumbawa?. Kita, air ada. Apa yang ndak ada? Mentalnya. Maka orang Lombok datang ke sini, orang Jawa datang, nyewa tanah, nyewa lahan, Kemudian dia jadi tuan. Kemudian yang punya lahan dia jadi budak. Dia bekerja di lahannya sendiri. Siapa yang salah? bukan mereka yang salah. Tapi bagaimana tata kelolanya. Jadi itu yang kita inginkan.

Visi misi Pak Bupati saat ini sudah sangat bagus Pak. Tinggal bagaimana menjembataninya ke bawah saja. Ke aparatur pemerintah dan masyarakat maksudnya.

Kyai Syamsul dan hewan ternaknya.

Berarti tidak akan ada visi misi baru yang akan diusulkan Pak Kyai kepada bakal calon Bupati yang akan menjadi pasangannya nanti?

Tentu ada. Kami akan sampaikan visi misi kami. Jika nantinya bisa klop, maka akan disinergikan. Kan kalau bisa klop paket ini, kita tentu akan duduk bersama. Kita duduk bersama, kita buat blueprint nya pembangunan KSB. Kita tidak ingin RPJMD itu ada copy paste setiap tahun pak. kita ingin betul-betul yang ril. Kita sinkronkan, kita kombinasi. Kemudian kita serap dulu aspirasi masyarakat, baru digodok, dan kemudian dibawa ke DPRD. Karena kalau kita mengandalkan, usul saran dari masyarakat, seribu orang, pasti punya seribu saran.

Tetapi kan kita tidak bisa demikian, dana kita terbatas, waktu kita terbatas, dan kita mesti ada garis besarnya dulu. Sehingga per tahun kita punya target. Misalnya, tahun ini, di Dinas Pertanian harus menyelesaikan ini. Dia harus bisa memberikan multiplier effect ke perekonomian. Dari sisi peternakan, dia harus clear di sini. Dari sisi pertambangan, dia clear di sini. Sehingga semuanya betul-betul terstruktur dan terukur, agar capaiannya dalam lima tahun itu kelihatan. Tidak asal buat program. Apalagi kalau muncul program-program dadakan namanya.

Biasanya, seseorang bakal kandidat kepala daerah sebelum maju, kerap melakukan survei elektabilitas dan popularitas. Apakah Pak Kyai melakukan hal itu? Lalu siapa dan apa yang membuat Bapak begitu percaya diri untuk ikut Pilkada?

Ndak!. Saya biarkan mengalir apa adanya. Saya percaya bahwa investasi sosial, dakwah, kedekatan kita dengan masyarakat. Masyarakat akan memahami. Karena kita ingin bicara dari hati ke hati. Saya tidak ingin menyampaikan ke masyarakat bahwa saya inilah orang baik. Karena saya menginginkan, jangan kita yang mengatakan diri kita ke orang baik. Biarkanlah orang lain yang menilai kita.

Baca Juga :  Minim Peluang Cabup Non Parpol
Kyai Syamsul ketika mengajar ngaji pemuda Desa Sapugara Bree.

Oh ya, bagaimana pendapat Pak Kyai soal fenomena “Bela Baris” yang kerap berlaku pada setiap hajatan Politik? Bagaimana Pak Kyai menyikapinya?

Tentu setiap daerah ada perasaan itu. Dan itu nyata. Tapi saya Ingin hadir sebagai ruh dan denyut nadi dari semua Kecamatan. Saya tidak ingin hanya memporsir Brang Rea. Tapi jika nanti persoalannya Brang Rea ini misalnya gol mendukung saya. Nah, itu kan emosional mereka, yang tidak kita arahkan. Memang latar belakang daerah itu tentu ada pengaruhnya.

Maka yang akan kita sodorkan, bahwa ini persoalan KSB, Ini solusinya. Dan persoalan ini bukan saja di Brang Rea. Persoalan ini di semua Kecamatan, dan solusinya ini untuk semua masyarakat KSB di semua Kecamatan. Saya rasa ini sudah cukup menepis isu bela baris itu. Kecuali kalau kita tidak membawa tawaran apa-apa, hanya kita mengandalkan latar belakang daerah. Misalnya, saya ini maju karena didukung sepenuhnya oleh orang Brang Rea. Saya ndak mau begitu. saya maju ini karena ada yang saya bawa. Ini persoalannya, ini solusinya. Kira-kira menurut bapak yang ada di semua kecamatan ini kalau bisa menerima, silahkan. Visi kami KSB. Membangun peradaban KSB.

Berapa persen kira-kira peluang Pak Kyai untuk bisa lolos dalam penjaringan Bakal Calon Wakil Bupati di PDIP ini? Bagaiman jika tidak berhasil?

Saya tidak menargetkan berapa persen, berapa persen Pak. Kami hanya menawarkan, karena kami hanya punya tanggung jawab kepada Tuhan, kepada Allah. Bahwa kita hanya diwajibkan berusaha. Kita memberikan sudah maksimal, semua usaha, semua jalur sudah kita tempuh. Jalur komunikasi, dan semuanya. Kemudian kita sodorkan. Nah, kalau memang itu nanti dia berpaket, Itulah yang diridhai Allah. Kalau tidak, itulah yang dikehendaki Allah. Ya, kita plong saja, nggak ada beban.

Kita ikhtiar saja Pak. Kita ikhtiar, kita fokus, kemudian kita berdoa. Kita serahkan kepada Allah SWT. Maka di sana kan itu cuman dua. Yang pertama, kita bersyukur, kalau kita diberikan nikmat. Kemudian kalau kita tidak diberikan, ya kita bersabar.

Politik kan dinamis, tergantung hasil komunikasi kita. Kami tidak ambisi secara pribadi. Tapi karena teman-teman dari Pondok Pesantren, Persatuan Pondok Pesantren, terus mendorong. Juga teman-teman dari MUI, dan dari ormas mendukung kami untuk bisa mengambil bagian pada kontestasi ini. Maka, kenapa tidak!. Bismillah!.

Jalan untuk menegakkan agama ini kan tiga Pak. Yang pertama, dengan tangan, dengan kekuasaan. Yang kedua dengan lisan. Yang ketiga dengan hati. Bagi yang mampu dengan tangannya, silahkan kata Rasul. “Barang siapa yang melihat sesuatu yang kurang baik, maka ubahlah dengan tangannya.”. Artinya dengan aturan. Tentu di sini maksudnya, masuk ke kekuasaan. Kalau tidak mampu dengan lisan, ya dari mimbar khotbah ke mimbar khotbah, dari ceramah ke ceramah. Kemudian kalau tidak mampu, kata nabi, maka dengan hati. Jangan setujui perbuatan itu. Tapi itulah selemah-lemahnya iman.

Kyai Syamsul bersama Para Santri.

Apa Pak Kyai tidak khawatir jika nanti dituding ambisi kuasa dan gila hormat? Maklum biasanya, kalau ada ulama yang masuk ke gelanggang Pilkada, cibiran seperti itu sering dihembuskan.

Kalau yang meremehkan, dan mencibir sudah biasa. Karena mereka belum mengenal saja. Selentingan, cibiran, dan cemoohan itu terjadi, karena kita belum duduk bersama. Kita belum berikan pemahaman. Terutama, yang mengatakan agama ndak boleh masuk ke politik. Kalau politik ini dibiarkan liar tanpa agama, maka dia akan tersesat. Kemudian agama saja, tanpa politik, maka akan jadi kuda tunggangan. Misalnya, sekarang agama saja, tanpa mau berpolitik. Tapi nanti pas di pemilihan, orang LGBT milih, orang ahli zina milih, orang ahli narkoba milih, lalu kita apatis. Maka yang akan memimpin kita mereka-mereka itu. Kita jadi kuda tunggangan. Kalau kita punya kesempatan dan punya kemampuan, maka akan kita lepas tanggung jawab kita kepada Allah.

Saya rasa, kalau soal kekuasaan Pak, kita lebih berkuasa di pondok daripada di birokrasi. Kalau di pondok kan ndak ada atasan. Kita yang langsung jadi pimpinan. Tapi kalau di birokrasi ada atasan. Jika kita jadi Bupati, ada Gubernur di atas kita. Kalau kita jadi Gubernur, ada Presiden. Kalau dari sisi kita mengharapkan penghormatan. Rasa-rasanya, menjadi Kyai lebih dihormati, daripada menjadi Wakil Bupati. Tetapi apalah artinya penghormatan kepada pribadi saya, sementara saya melihat saudara-saudara saya terinjak Pak. Lebih baik saya menjadi lilin, tetapi bisa menerangi yang banyak. Daripada kita menjadi lampu, tapi kita tidak bisa menerangi. Kita ingin menerangi mereka Pak.

Kita memang berkuasa di pondok ini Pak. Tetapi kekuasaan kita hanya terbatas. Kita tidak bisa memberikan manfaat yang lebih besar kepada yang lain. Tetapi ketika kita bisa masuk ke birokrasi, maka pondok-pondok ini bisa kita berdayakan. Guru-gurunya bisa kita perbanyak, atau guru-guru dari luar bisa didatangkan. Sarana dan prasarananya juga bisa dibenahi  dan ditingkatkan. Dan lain-lain.

Kyai Syamsul bersama Fud Syaifuddin.

Terakhir, bagaimana hubungan secara pribadi, antara Pak Kyai dengan Pak Wabup Fud Syaifuddin akhir-akhir ini?. Sedangkan diketahui, beliau adalah rival Bapak di proses penjaringan nanti.

Baik-baik saja. Tidak ada masalah. Beliau sangat memahami keputusan saya. Apalagi beliau sudah lama malang melintang di kancah perpolitikan. Semua tahu kan, periode pertama Kyai Zul beliau beseberangan. Periode kedua, beliau bersama Kyai Zul. Bahkan untuk menjadi wakil bupati, beliau diusung oleh Partai Kyai Zul. Sehingga dalam politik, tidak ada lawan dan kawan abadi. Tergantung apa kepentingannya. Jadi nggak usah dibesar-besarkan soal itu. Hubungan silaturrahmi kami sangat baik.

Terima kasih Pak Kyai atas waktu dan kesempatannya untuk kami wawancarai. Kami selalu doakan yang terbaik buat Bapak. Assalamualaikum.

Waalaikumsalam. Terima kasih.

– Hasil wawancara yang ditayangkan dibuat berdasarkan transkrip rekaman pembicaraan, meski ada beberapa yang diringkas dan dipangkas. Photo-photo yang ditampilkan diambil dari akun facebook pribadi KH Syamsul Ismain Lc.

Bagikan di :

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
"Agusfian Ditunjuk Sebagai Nakhoda" Taliwang, KOBAR - Buntut dari persoalan hukum yang menjerat Jabaruddin AR,…