Minat Baca Generasi Milenial

Oleh: Diena Frentika, S.Pd.Si., M.Pd.

Minggu lalu (30/07/2019), Kobar menuliskan berita berjudul “Minat Baca Masyarakat Rendah”. Rendahnya minat baca masyarakat didasarkan pada data Perpustakaan Daerah tahun 2018 lalu. Menurut Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbawa Barat melalui Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan, Drs Mulyadi, frekuensi membaca masyarakat rata-rata hanya tiga sampai empat kali perminggu bahkan dibandingkan dengan daerah lain, KSB masih ketinggalan. Masyarakat pada jaman milenial seolah tidak lagi menempatkan buku sebagai prioritas sumber informasi. Oleh karena itulah pihak Perpustakaan Daerah gencar memberikan sosialisasi untuk memancing minat baca baik pada Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

Minat baca yang dimaksud berkaitan dengan aktivitas membaca buku cetak. Dugaan rendahnya minat baca masyarakat karena adanya penilaian bahwa kegiatan membaca memerlukan alokasi waktu yang tidak sedikit. Itulah yang menjadikan alam bawah sadar memberikan doktrin untuk malas membaca. Jangankan membaca dengan mengunjungi perpustakaan daerah.

Pada kalangan siswa misalnya, segala informasi yang berasal dari guru dianggap benar sehingga siswa merasa tidak perlu lagi membaca. Hanya sedikit siswa yang membaca ulang materi pelajaran yang telah diajarkan di sekolah maupun membaca buku untuk mempelajari materi yang akan diajarkan selanjutnya. Bahkan tidak jarang tugas maupun latihan yang diberikan oleh guru tidak dikerjakan oleh siswa.

Pada kalangan mahasiswa juga tidak jauh berbeda. Intensitas membaca buku mahasiswa jaman sekarang terasa berbeda dengan mahasiswa jaman dulu. Mahasiswa jaman now lebih senang membuka Google dan membaca dari website yang kadang dibuat bukan oleh ahlinya. Mereka mencari sumber informasi melalui mesin pencarian Google karena lebih hemat waktu dan hemat biaya.

Minimnya minat baca masyarakat juga didukung oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan manfaat membaca buku. Padahal membaca buku menjadi kunci utama seseorang untuk memahami suatu hal secara jelas. Itulah mengapa buku dikatakan sebagai jendela dunia. Uniknya, masyarakat enggan membaca buku, namun rajin membuka HP dan membaca status maupun chat yang masuk. Bahkan mereka juga pandai menuliskan rangkaian kalimat dalam waktu singkat. Dengan demikian, terdapat pergeseran pola literasi masyarakat dari literasi dunia nyata menjadi literasi dunia maya. Presentase waktu dan orang yang masih bertahan untuk membaca buku cetak seolah menjadi semakin sedikit.

Tidak hanya membaca berita di social media. Masyarakat jaman sekarang juga cenderung senang melihat foto maupun gambar bergerak. Perkembangan teknologi seolah menggeser kedudukan buku di tengah-tengah masyarakat jaman milenial. Menurut Satria Darma, ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Indonesia, budaya menonton masyarakat Indonesia yang tinggi turut membantu melemahkan minat membaca dan menulis siswa di Indonesia (Republika, Sabtu, 23/2/2019). Berdasarkan data BPS, jumlah waktu yang digunakan anak Indonesia dalam menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah ini terlalu besar dibandingkan dengan Australia yang hanya 150 menit per hari, Amerika 100 menit per hari, bahkan Kanada 60 menit per hari.

Untuk mengembalikan buku sebagai sesuatu yang diminati masyarakat, paradigma bahwa buku adalah teman bermain dan membaca adalah kegiatan menyenangkan perlu ditanamkan pada generasi muda. Tujuannya agar tidak ada jarak antara membaca dan bermain. Anak merasa kegiatan bermainnya melalui membaca dan kegiatan membaca sebagai salah satu caranya bermain. Dengan demikian anak memiliki persepsi yang menyenangkan saat membaca dan menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya bermain sambil belajar.

Disinilah perlunya peran orang tua untuk melatih budaya membaca melalui aktivitas sederhana di rumah sejak dini. Contoh sederhananya adalah membacakan dongeng pada anak. Kegiatan ini dapat menstimulus anak agar tidak asing dengan buku. Semakin tinggi intensitas anak berinteraksi dengan buku maka anak semakin terbiasa dengan kegiatan membaca.

Meskipun teknologi berkembang dengan pesat dan mampu menghadirkan informasi dengan cepat, namun buku sebagai sumber informasi selayaknya tetap menjadi prioritas utama. Hal ini karena buku menghadirkan bacaan yang efektif untuk membangun pengetahuan. Tulisan yang disajikan di dalam buku runtut dan jelas sehingga memudahkan pembaca untuk membangun pohon jaringan informasi. Akibatnya, orang yang membaca buku akan memiliki pengetahuan yang holistic dibandingkan dengan orang yang hanya membaca sepenggal-sepenggal informasi. Sebagaimana pernyataan Bapak Mulyadi pada tulisan di Kobar minggu lalu, “Banyak orang sukses dan cerdas karena kecintaan mereka membaca buku dan belajar. Oleh sebab itu mari kita tingkatkan intensitas membaca terutama di waktu senggang.”. ***

– Penulis Adalah Dosen Universitas Cordova Indonesia, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
“Perusahaan Nasional Yang Tidak Nasionalis” Taliwang, KOBAR - Jelang perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI)…