“Entertainer Sejati Yang Tidak Berjanji”

Calon Gubernur NTB, DR KH zulkifli Muhadli SH MM (Kyai Zul), mendapat sambutan luar biasa selama melaksanakan roadshow silaturahmi di Dana Mbojo (Bima – Dompu). Ada banyak alasan kenapa di semua tempat yang dikunjungi, tokoh yang juga bupati KSB itu selalu mendapat perhatian luas dan dianggap sebagai ‘harapan baru’ untuk perubahan NTB  ke arah yang lebih baik.

(Catatan Roadshow ZUL ICHSAN oleh: KHAIRIL ZAKARIAH*)

Suatu hari di tahun 1963, seorang anak lelaki tanggung berlari tergopoh-gopoh dipanggil ibunya dari dalam toko sederhana di Taliwang. Sang ibu meminta anaknya itu, untuk memberi sejumlah uang kepada seorang anak lelaki lainnya yang lebih besar yang akan naik ke bus menuju Alas Sumbawa. Tanpa bertanya si anak melaksanakan perintah ibunya. Usai melaksanakan perintah, si ibu bercerita kepada si anak, bahwa anak lelaki yang diberinya uang itu adalah anak yatim yang ditinggal mati ayahnya karena tersambar petir. Anak itu akan bersekolah ke Alas, karena di Taliwang saat itu belum ada sekolah setingkat SMP. Dari toko itu pula si anak lelaki setiap hari melaksanakan perintah ibunya untuk datang ke pasar Taliwang mencari seorang nenek tua yang setiap hari selalu ke pasar membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Sama. Tugas si anak lelaki tanggung itu, memberi uang sekedarnya kepada si nenek.

Tahun 2012, Tuan Guru Fadli Thohir (Tuan Guru Bodak) pendiri Yayasan  dan Pondok Pesantren YATOFA di Bodak – Lombok Tengah, bersama sejumlah ulama dan tuan guru lainnya dari Pulau Lombok, bertemu dengan si anak lelaki yang telah tumbuh dewasa, sukses, memiliki pondok pesantren dan menjadi pemimpin di daerahnya. Di pertemuan itu Tuan Guru Bodak bersama para ulama dan tuan guru lainnya, meminta kesediaan si anak lelaki tersebut untuk menjadi pemimpin di NTB. Alasannya, mereka sudah lama mencari calon pemimpin NTB berikutnya yang siap menjadi bapak bagi anak yatim dan saudara fakir miskin. Tidak ada yang kebetulan, melainkan semua hal dalam perjalanan hidup manusia tidak lepas dari ketentuan Allah dan setiap peristiwa saling kait mengkait satu sama lain.

Hening. Tidak satupun diantara ribuan warga yang memenuhi gedung Muhammadiyah Kota Bima yang bersuara. Di kesempatan lain, warga tertawa, kadang pula bertepuk tangan riuh dan bersorak lantang bersama meneriakkan yel-yel kemenangan. Kadang pula terenyuh ketika si orator mengutip hadist atau ayat-ayat Al Quran, tentang toleransi dan silaturahmi, motivasi untuk bekerja keras untuk perbaikan kehidupan atau tentang keutamaan-keutamaan yang patut menjadi suri tauladan. Tidak satu kalimatpun yang menyinggung atau meyudutkan apalagi menghujat orang lain yang diucapkan.  Sosok yang menceritakan kisah tersebut sesekali berjalan mengelilingi panggung menyapa warga yang tidak hanya duduk tapi juga berdiri hingga keluar ruangan. Ia tidak hanya berhasil menguasai panggung, tetapi juga mampu mempengaruhi psikologis warga sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan lewat cerita atau orasi yang disampaikannya langsung bisa diterima dan dicerna dengan baik. Ia juga tidak sekedar mampu memberi pencerahan secara politik dan sipiritual, tetapi juga menghibur.

Sosok yang berorasi dan memukau di atas panggung itu adalah DR KH Zulkifli Muhadli SH MM (Kyai Zul) yang juga “Si anak lelaki tanggung”  yang suka memberi bagi anak yatim dan fakir miskin. Cerita tahun 1963 itu, menjadi inspirasi ketika ia terpilih menjadi Bupati KSB periode pertama tahun 2005 -2010. Ia melaksanakan program pendidikan gratis dari TK hingga perguruan tinggi, sehingga tidak ada anak yatim dan orang tidak mampu yang tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya. Ia juga melaksanakan program kesehatan gratis, sehingga tidak ada orang tidak mampu yang tidak bisa berobat karena tidak ada biaya. Ia juga melaksanakan program santunan kepada penyandang cacat dan Lansia yang tidak bisa bekerja, juga memberi subsidi untuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan memberdayakan desa menjadi mandiri lewat program dana abadi desa (DAD), serta berbagai program pro rakyat lainnya. “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan kesejahteraan masyarakat adalah janji kemerdekaan RI yang tertuang dalam Pembukaan undang-undang dasar 45. Jadi itu adalah tugas pemerintah,” katanya.

Karena itu, seorang tokoh masyarakat yang juga ulama sekaligus mantan Bupati Bima Drs Zainul Arifin, menyatakan Kyai Zul tidak berjanji, ketika ia memutuskan menerima pinangan para tokoh di Pulau Lombok dan bersedia mencalonkan diri sebagai Gubernur NTB 2013 -2018, lalu datang bersilaturahmi dengan masyarakat. “Apa yang disampaikan dalam program-programnya sudah terbukti dan telah dilaksanakan di KSB. Masyarakat menginginkan apa yang telah dilaksanakan di KSB itu, menyentuh seluruh masyarakat NTB,” ujar Zainul.

Bahkan mengajak warga untuk memilihnya sekalipun, dilakukan secara santun tanpa kesan intimidasi apalagi memaksa. “Tangan saya sebagai bupati pendek, tidak bisa menjangkau bapak-bapak, ibu-ibu di Bima dan Kota Bima. Tolong perpanjang tangan saya, agar bisa menyentuh bapak-bapak dan ibu-ibu di Bima, Kota Bima dan seluruh NTB,”. Lalu ribuan warga serempak menjawab…mauuuu..!!!(*)

*) Penulis adalah Ketua Komunitas Pers (KOMPERS) Sumbawa Barat. 

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Pengantar Perhelatan politik lokal (local politics) akan bergulir segera di BUMI GORA dan BUMI SEJUTA…