Barapan Kebo, Bukan Sekedar Tradisi

Oleh : Roy Marhandra*

Barapan Kebo merupakan tradisi masyarakat agraris Sumbawa termasuk Sumbawa Barat yang hingga kini masih hidup di “Tana Samawa” (nama lain Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat). Tradisi ini digelar masyarakat Suku Samawa setiap menjelang musim tanam dan setelah panen.

Selain sebagai pesta menyambut datangnya musim tanam yang digelar besar-besaran pada lahan sawah yang akan ditanami. Tradisi adu cepat kerbau yang kerap digelar di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat ini juga diselenggarakan untuk mengolah tanah sawah agar mudah ditanami.

Barapan Kebo, yang kalau di indonesiakan adalah Karapan Kerbau atau Balapan Kerbau, merupakan  tradisi masyarakat Sumbawa yang telah terpelihara turun temurun. Sebuah moment yang sangat efektif untuk membangun dan memperkuat tali silaturrahmi antar sesama warga.

Menurut beberapa tokoh adat Lingkungan Sebok (konon adalah basis penggila barapan kebo di Kecamatan Taliwang), kebiasaan masyarakat Sumbawa, event barapan kebo ini selalu diadakan pada setiap bercocok tanam dan sesudah panen. Dilaksanakannya barapan kebo di petak sawah milik seorang petani pada saat musim tanam adalah dalam rangka membuat struktur tanah menjadi mudah untuk dibajak dan ditanam. Dan pada saat musim panen, untuk merayakan keberhasilan panen masyarakat setempat.

Karena tradisi barapan kebo ini sudah menjadi milik masyarakat tana samawa, maka secara otomatis laga adu kecepatan 2 ekor hewan yang sekilas kita lihat memiliki otot yang malas untuk berlari ini, dapat melibatkan masyarakat tana samawa penggila barapan kebo dari ano siup (Sumbawa Timur) hingga ano rawi (Sumbawa Barat), dari Empang hingga Sekongkang.

Mendatangi daerah dimana tempat berlangsungnya kegiatan barapan kebo, kita kenal dengan istilah ngayo (datang menantang) dan bayar siru (saling balas atau saling mengunjungi). Di event inilah masyarakat tradisional tana samawa menjalin hubungan keakraban sebagai satu kesatuan suku, yaitu Suku Samawa.

Dulu Tradisi, Sekarang Industri

Tradisi masyarakat akan mempunyai nilai ekonomi tinggi jika keberadaannya unik dan menarik untuk dinikmati. Unik dan menarik ada yang lahir secara alamiah dan ada juga yang diformat sedemikian rupa sehingga mampu mempunyai daya tarik.

Tradisi barapan kebo yang kita miliki sebagai kekayaan budaya tau samawa, memiliki keduanya. Sebagai sebuah tradisi alami yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Dan barapan kebo mempunyai ciri khas tersendiri. Arena pacu di petak sawah berbentuk persegi panjang dengan volume air setengah lutut, mengesankan hentakan setiap perpindahan kaki sepasang kerbau menjadi lebih eksentrik. Hiasan jambul di kepala kerbau menunjukkan kepiawaian, kejantanan dan nilai jual sebuah kerbau karapan. Kekompakan antara kerbau karapan dengan joki,  menjadi perhatian yang menarik atas sebuah kerjasama yang apik. Sukses merobohkan Saka sebagai titik sasaran, diperindah dengan lantunan merdu sang joki mengumandangkan lawas (pantun khas Sumbawa).

Rangkaian tradisi ini adalah alami diwariskan leluhur tau samawa. Hingga pertengahan tahun 90-an, tradisi ini mulai melemah di tengah masyarakat, seiring dengan mulai banyaknya pilihan tawaran dalam menyalurkan hobi di dalam masyarakat dengan sentuhan globalisasi. Para penunggang kerbau karapan saat itu lebih didominasi oleh masyarakat 40-an tahun ke atas. Kerbau karapan hanya dimiliki oleh mereka yang bermata pencaharian sebagai petani.

Namun, Seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun, tradisi barapan kebo jarang sekali diselenggarakan dan sudah mulai ditinggalkan oleh para penggiatnya. Hingga tak jarang bagi mereka yang memiliki kerbau karapan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan disembelih untuk kebutuhan hajatan dan hewan kurban.

Memasuki tahun 2004, seiring dengan terbentuknya Kabupaten Sumbawa Barat, ada kesadaran di masyarakat Tana Samawa Kabupaten Sumbawa Barat, bahwa Tradisi barapan kebo bukan hanya ruang penyalur hobi untuk mereka yang berstatus petani. Namun, di dalam tradisi barapan kebo, ada nilai tinggi yang harus dihayati bersama, bahwa ikatan silaturrahmi antar masyarakat sangat tinggi pada pelaksanaan event barapan kebo. Berkumpulnya banyak orang dari seluruh penjuru tana samawa, untuk menyaksikan jagoannya berlaga di arena barapan kebo.

Seperti halnya event olahraga lainnya yang ada di tanah air, tradisi barapan kebo kedepan dapat menjadi industri. Menurut keterangan Abdul Razak, pecinta barapan kebo, yang sekaligus Kasi Pariwisata di Dinas ESDM Budpar KSB,  bahwa sepanjang pelaksanaan event barapan kebo setiap 2 (dua) kali dalam sebulan di KSB, tercatat aktifitas ekonomi masyarakat meningkat drastis. Para pecinta barapan kebo yang berasal dari Alas hingga Empang datang bertandang ke-KSB dengan mengendarai paling sedikit 15 truk yang membawa rombongan pecinta barapan kebo beserta kerbau karapannya. Selama dua hari mereka membelanjakan uangnya di KSB.

Begitu juga dengan jumlah kerbau karapan yang ada sekarang ini. Dibandingkan pada masa tahun 90-an. Di KSB saja hanya tercatat sebanyak 40 hinga 50 pasang kerbau karapan yang ikut dalam setiap event barapan kebo. Sekarang,  semenjak diadakannya event rutin Barapan kebo, jumlah kerbau karapan mencapai angka 190 pasang. Ini menunjukkan bahwa peminat barapan kebo sudah mulai meningkat, tidak hanya bagi kalangan petani, tetapi para pengusaha, PNS dan para pejabat. Jumlah ini akan terus meningkat, jika manajemen pengelolaannya terarah dan terencana.

Dengan banyaknya keterlibatan masyarakat di dalamnya, tradisi barapan kebo, memungkinkan untuk menjadi event komersil alias industri. Penduduk tana samawa dapat menjadi pasar utama tradisi barapan kebo. Tradisi ini pun memungkinkan untuk dapat melibatkan daerah lain yang ada di NTB untuk menjadi peminat dan pecinta olahraga barapan kebo, karena karakter eventnya tidak ada bedanya dengan lomba pacuan kuda, balap sampan, motor cross, yang memungkinkan orang lain juga ikut cinta dengan barapan kebo.

Sesekali mungkin dapat diadakan tour barapan kebo dengan mengambil lokasi pantai Senggigi-Lombok, pantai Lakey-Dompu, pantai Kuta-Bali, dan TMII Jakarta. Dengan sendirinya ketika banyak peminat yang ikut terlibat dalam tradisi barapan kebo. Maka kedepan, pada setiap pasang kerbau karapan yang akan berpacu, akan terpampang iklan produk ternama nasional maupun internasional. [*]

*) Penulis Adalah Seorang Budayawan dan Penggiat Seni Budaya Sumbawa.

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Kebijakan pemerintah selama ini cenderung tidak melakukan pembelaan kepada publik. Pemerintah justru lebih mengedepankan kebijakan…