);

Pulau Sumbawa Bakal Jadi Sentra Industri Pakan Nasional

Mataram, KOBAR – Jika Pulau Lombok menonjol dengan industri pariwisatanya, maka Pulau Sumbawa, dengan bentang alamnya yang luas akan dipersiapkan oleh Dr H Zulkieflimansyah SE MSc, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai sentra industri pakan nasional masa depan.

Dinas Pertanian (Distan) NTB mencatat, bahwa sebaran produksi jagung terbesar ada di Pulau Sumbawa, yakni  1,747 juta ton, dan Pulau Lombok hanya 337,185 ton saja. Untuk itu, dengan besarnya kapasitas produksi jagung Pulau Sumbawa, maka Pemerintah Provinsi NTB menargetkan agar Pulau Sumbawa menjadi basis industri pengolahan bahan baku jagung dan tongkol jagung menjadi pakan ternak, bahkan sumber energi alternatif. Yakni, bahan bakar briket dan etanol.

“Iya, Pulau Sumbawa kita jadikan pusat pembangunan pabrik pakan ternak dan industri ikutan lainnya. Sebab data produksi jagung di sana dua kali lipat lebih besar,” kata Khusnul Fauzi,  Kepala Dinas Pertanian NTB, Kamis, (28/11).

Baca Juga :  Karya TTG Putera KSB Optimis Lolos ke Tingkat Nasional

Ia menegaskan, NTB telah dicanangkan Gubernur sebagai pusat industrialisasi pertanian modern. Karena itu, pihaknya sudah merancang road map strategis guna mendukung misi tersebut. Salah satunya, strategi pencapaian produksi. Ada 4 strategi pencapaian produksi. Yakni, antara lain melalui perluasan areal, peningkatan produktifitas, pengamanan produksi hingga penguatan kelembagaan dan pembiayaan.

Dari sisi perluasan areal tanam, pemerintah melalui Distan NTB, mengoptimalisasikan pemanfaatan tanah kering. Peningkatan indeks per tanaman. Integrasi tanaman jagung dengan tanaman perkebunan dan ternak.

Sementara untuk peningkatan produktifitas jagung, kata Fauzi, pihaknya melakukan pergiliran varietas dari potensi produksi rendah ke sedang, atau tinggi dan peningkatan mutu intensifikasi.

Selanjutnya, pengamanan produksi. Ini dikhususkan tehadap serangan organisme penganggu tanaman. Pengamanan terhadap anomali iklim dengan menentukan waktu tanam yang tepat. Terakhir, penguatan kelembagaan dan pembiayaan, melalui pemantapan kelompok tani secara terus menerus, memfasilitasi kelompok tani dengan memperoleh kemudahan dari bank.

Baca Juga :  Dikbudpora Dituding Tutup Mata Soal Proyek Ruang Kelas SMKN 1 Brang Rea

Distan NTB berharap, strategi menggenjot produksi jagung diharapkan akan mampu meningkatkan peluang investasi dan kepercayaan pasar. Salah satunya, potensi agribisnis. Untuk mendorong itu, Distan mengajukan syarat agar petani jagung dapat berdaya saing dan memiliki nilai tambah.

Misalnya, dengan pola kemitraan ganda. Yakni, bermitra dengan pengusaha daerah, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kemudian, pengusaha daerah atau lokal dan BUMD langsung bermitra dengan kelompok tani.

“Itu rancangan kami untuk melindungi daya saing petani kita,” ujar Khusnul Fauzi.

Lantas ketika disinggung bagaimana peran pemerintah daerah dalam mendukung strategi tadi, Fauzi menjawab, bahwa pemerintah daerah berkontribusi signifikan untuk mendorong pencapaian produksi jagung, hingga manajemen kelompok tani dan penyediaan Alat Sistem Pertanian (Alsintan).

Untuk diketahui, produksi jagung di NTB terus meroket dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2012, tercatat ada 642.674 ton, namun meroket tajam menjadi 2,020 juta ton pada tahun 2017, atau naik 139 persen dari target realisasi 1,445 juta ton. (kdon)

Bagikan di :

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
"Tak Punya SK dan Ruang Kelas, Terpaksa Mengajar di Pura" Sekongkang, KOBAR - Hari guru…