WNA Bisa Masuk KK dan Miliki KTP

Taliwang, KOBAR – Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) penting bagi Warga Negara Indonesia (WNI), sebab KK dan KTP merupakan sebuah dokumen vital dalam pengurusan administrasi pada setiap pelayanan publik. KTP dan KK sering dipakai sebagai salah satu syarat dalam mengurus berbagai keperluan, mulai dari daftar masuk sekolah, membuat paspor, membuat kartu BPJS dan lain-lain. Pertanyaannya, bagaimana dengan Warga Negara Asing (WNA), apakah mereka bisa dicantumkan ke dalam KK dan miliki KTP meskipun sudah beristrikan atau bersuamikan WNI?.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Ibrahim SSos MM, melalui Kepala Bidang Identitas Penduduk (Kabid IP), Agus Sukurdin BA, menjelaskan kepada media ini, bahwa nama suami atau istri yang WNA bisa dicantumkan di KK, tapi dengan syarat sudah memiliki KITAP atau Kartu Izin Tinggal Tetap. Sedangkan bagi suami yang WNA, meskipun telah miliki KITAP, sehingga namanya bisa dicantumkan di KK, namun posisinya bukan sebagai Kepala Keluarga. Istrinya yang WNI lah yang menjadi Kepala Keluarga.

“Jika si suami yang WNA tidak memiliki KITAP, namanya bisa dicantumkan di KK jika sudah memiliki anak. Nama suami akan tercantum di kolom nama ayah dari si anak. Dengan cacatan jika si anak adalah WNI.  Jika tidak WNI, maka seumur hidup akan tetap nama si istri,” jelas Agus.

Tambah Agus, sesuai UU Adminduk, ada beberapa prosedur yang harus dijalani WNA untuk bisa mendaftarkan diri agar masuk ke dalam KK, salah satunya dengan memiliki KITAP, dan KITAP itu bisa didapatkan dengan cara istrinya yang WNI membuat KK atas namanya sendiri terlebih dahulu, barulah nanti WNA itu mendapatkan KITAP.

Dan dalam proses pembuatan KK WNI, jelas Agus, berkas yang diajukan cuma berkas atas namanya sendiri, dan tidak dibutuhkan identitas WNA. Dokumen yang diperlukan adalah, KTP pemohon yang asli dan fotocopy 1 lembar, KK yang tercantum nama WNI dan orang tua yang asli dan fotocopy 1 lembar, buku nikah, sertifikat nikah, surat laporan nikah luar negeri yang asli dan fotocopy 1 lembar, dan surat pengantar dari RT.

“Ketika KK nya sudah ada, barulah proses pembuatan KTP bisa dilakukan. Maka status si suami atau si istri yang WNI tersebut akan dirubah, dari tidak menikah menjadi menikah. Demikian juga dengan si suami atau si istri yang WNA bisa dibuatkan KTP-nya. Tapi jika si suami atau si istri yang WNA itu tidak menetap di Indonesia, maka hal itu tidak bisa dilakukan,” demikian Agus Sukurdin BA. (kdon)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
“Pesta Berakhir, Mari Kerja” Taliwang, KOBAR - Peringatan hari lahir (Harla) daerah ini merupakan hari yang…