Sejak 2014, Tercatat Ada 72 Kasus Kekerasan Terhadap Anak di KSB

“Terparah, Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap 13 Anak Oleh Oknum Guru Ngaji”

Taliwang, KOBAR – Data yang dikeluarkan Kantor Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (KP3AKB) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), mencatat, bahwa selama kurun waktu dua tahun terakhir ini (2014-2016), telah terjadi 72 kasus kekerasan terhadap anak di KSB. Terlihat bahwa angka kasus kekerasan terhadap anak nampaknya belum bisa ditekan bahkan cenderung mengalami peningkatan.

Kepala Seksi Perlindungan Anak pada Kantor KP3AKB Sumbawa Barat, Ibrahim SKM, tidak menyangkal jika kasus kekerasan terhadap anak terus mengalami peningkatan. Ia bahkan merinci, pada tahun 2014 lalu, telah terjadi 17 kasus kekerasan terhadap anak meliputi 8 kasus pada semester pertama dan 9 kasus pada semester kedua. Sedangkan tahun 2015, terjadi  45 kasus, dengan rincian, 20 kasus pada semester pertama dan 25 kasus pada semester kedua. Sementara hingga pertengahan tahun 2016 ini sudah terjadi 10 kasus kekerasan terhadap anak.

“Bentuk kasusnya pun beragam mulai dari tindakan kekerasan fisik, fisikis, asusila hingga penelantaran anak,” ungkapnya.

Menurutnya, anak merupakan aset bangsa. Jika dibiarkan dengan tidak memberikan perlindungan, dikhawatirkan bisa menjadi ‘lost generation’. Pihaknya pun telah memikirkan dampak dari kekerasan terhadap anak tersebut dengan telah melakukan penanganan dan pendampingan.

“Meski belum begitu optimal, namun kita tetap mengawal dan memberikan pendampingan terhadap korban hingga ke proses hukum. Kita bersama lembaga pendampingan perempuan dan anak bahkan telah menyelesaikan sejumlah kasus hingga pengadilan. Salah satunya, kasus dugaan pelecehan seksual terhadap 13 anak yang diduga dilakukan oleh oknum guru ngaji di Desa Kertasari, Kecamatan Taliwang,” bebernya.

Ia tidak memungkiri kasus-kasus kekerasan terhadap anak tersebut juga banyak terjadi dalam keluarga atau rumah tangga dan lingkungan sekitar. Kondisi ini perlu menjadi perhatian semua pihak. Pemerintah, menurutnya, akan terus berupaya melakukan penyadaran serta pemahaman kepada semua pihak, agar lebih peduli dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak. Utamanya terhadap perlindungan anak-anak yang sering menjadi korban kekerasan baik dalam rumah tangga maupun lingkungan sekitarnya. Upaya itu menurutnya tidak mungkin semata-mata hanya mengandalkan pemerintah.

“Kita semua harus bersinergi meningkatkan pemahaman serta kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan bagi perempuan dan anak. Ketahanan dalam keluarga juga perlu terus ditingkatkan,” harapnya.

Ia mengemukakan, terjadinya kasus kekerasan terhadap anak merupakan permasalahan yang kompleks, karena itu perlu penanganan yang terintegrasi dari berbagai sektor.

“Mungkin kita perlu melakukan upaya-upaya yang implementatif dan langsung menyentuh masyarakat. Memang kemajuan teknologi informasi, menjadi salah satu pemicu terjadinya kasus-kasus tersebut,” tukasnya .

Namun dia berharap, agar para orang tua dan guru yang merupakan garda terdepan perlindungan terhadap anak, supaya peduli dan peka terhadap perubahan prilaku dan sikap anak, termasuk apabila melihat ada perubahan fisik pada anak.

“Kita tidak saling menyalahkan tetapi bagaimana saling introspeksi dan mendukung upaya-upaya pencegahan sejak dini, agar tidak terjadi lagi kasus kekerasan terhadap anak, baik di lingkup keluarga, masyarakat juga sekolah,” pungkasnya. (kjon)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
“Bupati KSB Janji Gelontorkan Dana Untuk KONI” Taliwang, KOBAR - Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia Cabang…