Polisi Siap Awasi ‘Serangan Fajar’

Taliwang, KOBAR – Terkuaknya kasus akan ada bagi-bagi uang jelang hari pencoblosan atau biasa disebut ‘serangan fajar’, yang diduga dilakukan oleh salah satu anggota DPR RI, yang juga Calon legislatif (Caleg), Bowo Sidik Pangarso, diprediksi bukan menjadi satu-satunya politisi yang menggunakan cara tersebut untuk memenangkan Pemilu 2019.

Jika merujuk pada teori gunung es, diperkirakan akan terdapat banyak politisi yang melakukan hal serupa, namun belum terbongkar saja. Itu pun tidak hanya terjadi di tingkat pusat, tetapi kemungkinan besar praktik itu terjadi juga di politisi tingkat daerah. Hal tersebut dinilai sangat wajar terjadi, karena mengingat dinamika politik negeri ini yang cenderung pragmatis dan transaksional.

“Kalau berdasar teori gunung es, berarti di bawah itu lebih banyak lagi. Cuma belum terbongkar saja kan. Dan itu tidak hanya di pusat saja, tapi di daerah juga,” ujar Ardi Fadlullah, Mahasiswa Undova, yang juga salah seorang pemilih pemula, kepada awak media ini.

Menurutnya, kalau berkaca dari kasus Bowo Sidik Pangarso, Ardi pun menilai, jikalau jumlah amplop yang ditemukan dari seorang politisi berjumlah lebih dari 100, maka bisa disimpulkan bahwa orang tersebut telah melakukan politik uang, yang salah satunya adalah serangan fajar tersebut.

“Karena kalau kita melihat OTT yang dilakukan KPK itu menjerat politisi dan Caleg juga. Sehingga rumor tentang serangan fajar bukanlah isapan jempol. Berarti benar terjadi, cuma sayangnya tidak tertangkap saja. Karena memang dinamika politik di kita sangat transaksional, belum ideologis,” kata Ardi.

Terkait kesiapan polisi jelang pemungutan suara, Kapolres Sumbawa Barat, AKBP Mustofa SIK MH, kepada awak media ini, menjelaskan, bahwa pihaknya telah menginstruksi kepada anggota Bhabinkamtibmas untuk rajin bersilaturrahmi ke setiap rumah warga, guna mengajak mereka untuk tidak absen ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), Rabu 17 April, mendatang, demi menggunakan hak suara dalam Pemilu 2019.

“Selain menyambangi rumah, kami juga mengarahkan kepada anggota untuk memasang spanduk di titik strategis yang muatannya ajakan untuk memilih agar masyarakat mau memberikan hak suaranya dalam pemilu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil,” beber Kapolres.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan pihaknya, sebagai dukungan untuk menyukseskan pesta demokrasi sekaligus mendorong peningkatan angka partisipasi pemilih terutama di bumi Pariri Lema Bariri. Aksi door to door itu, tambah Mustofa, dikuatkan dengan Program Promoter Polri nomor 7, tentang Penguatan Harkamtibmas, dan nomor 8, tentang Membangun Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Kamtibmas, Bhabinkamtibmas di setiap Desa.

“Sembari menyiarkan itu, mereka (Bhabinkamtibmas, red) juga dituntut untuk menjaga dan memelihara kondusifitas daerah jelang hari H pencoblosan,” ujar AKBP Mustofa.

Ia juga berharap, jika masyarakat menemukan tanda-tanda potensi kerawanan jelang pencoblosan, agar segera dilaporkan, dan ia menjamin pihaknya akan langsung bergerak ke lokasi. Disinggung soal dugaan akan terjadinya ‘serangan fajar’ jelang pencoblosan, Mustofa menegaskan, bahwa selama itu menyalahi aturan Pemilu, pihaknya tidak akan ragu-ragu untuk menindak.

“Yang jelas, Polisi pada posisi netral. Kita semua menginginkan pemilu ini berjalan damai dan ceria. Meski ada kubu paslon yang menang dan kalah, itulah konsekuensi pilihan politik,” tutup Kapolres. (kdon)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Hari penentuan tentang siapa saja yang akan duduk di 25 kursi empuk di Dewan Perwakilan…