Petani Dihantui Gagal Tanam Akibat Cuaca Tak Menentu

Sulaiman: Jangan Melulu Kunjungan Sana Sini, Kita Malah Diabaikan

Taliwang, KOBAR – Musim tanam di penghujung tahun 2015 hingga permulaan tahun 2016 ini menjadi momen terberat bagi petani. Bagaimana tidak, fluktuasi cuaca menyebabkan intensitas hujan di Bumi Pariri Lema Bariri semakin jarang terjadi. Hal ini menyebabkan petani di sejumlah wilayah terancam gagal tanam. Sedangkan petani yang terlanjur menanam padi, tak kalah ketar-ketir akan mengalami gagal panen. 

Sulaiman (40), salah seorang Petani Desa Banjar Kecamatan Taliwang, mengungkapkan ketakutannya. Jika hujan sampai akhir bulan ini tidak turun maka akan menyebabkan benih padi siap tanam miliknya akan mati.

“Benih bibit padi saya tebar sudah 1 bulan lebih lamanya. Kalau  lama tidak dipindahkan bisa tinggi dan tidak layak lagi untuk ditanam, apalagi hujannya tidak turun-turun,” keluhnya.

Keluhan yang sama juga diungkapkan Masayang (50), petani Desa Lampok Kecamatan Brang Ene. Ia mengungkapkan kegundahannya lantaran padi yang telah ditanamnya akan mati sia-sia jika sampai Februari mendatang hujan tak turun. Apalagi sumber air (Embung, Red) yang menjadi tempat penampungan air sudah lama kering.

“Wah, kalo lama-lama bakalan mati padi saya. Kondisi tanah sudah mulai retak padahal berdekatan dengan Embung,”  katanya.

Baik Sulaiman maupun Masayang sama–sama berharap agar  pemerintah memperhatikan keluhan mereka, tidak melulu kunjungan sana sini.

“Lihat kami disini, karena bercocok tanam satu-satunya tumpuan hidup kami,” harapnya.

Saat ini, luas baku lahan tanam di Sumbawa Barat adalah 11.737 hektar. Dari jumlah ini, lahan yang belum bisa ditanami petani adalah 5.591 hektar, sedangkan sisanya merupakan lahan yang telah ditanami. Keseluruhan lahan yang telah ditanami padi, terkomposisi dari lahan irigasi teknis dan sawah tada hujan bagian hulu. Lahan ini terdapat di Kecamatan Brang Rea, Seteluk serta beberapa tempat di kecamatan Taliwang dan Brang Ene. Pun demikian sawah yang belum dapat ditanami keadaannya masih memprihatinkan.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian, Rusdi SP MM, yang ditemui media ini menyatakan, pihaknya terus berusaha mencari solusi mengatasi masalah ini. Penyaluran mesin pompa air telah dilakukan ke seluruh kelompok tani sebagai salah satu upaya meminimalisir kelangkaan air. Optimalisasi Sumur bor dari anggaran DAK 2015 pun  mulai dioptimalkan keberadaannya.

“Ada sekitar 52,04 persen potensi lahan di Sumbawa Barat terancam tidak dapat ditanami apabila sampai Maret mendatang  tidak turun hujan,” ungkapnya.

Menurutnya, jika hujan tidak turun terus berlanjut maka dipastikan dalam dua bulan ke depan, para petani terancam tidak menanam. Untuk itu, pemerintah melalui pihaknya akan mempersiapkan sejumlah langkah-langkah guna menangani kemungkinan terburuk.

“Salah satunya dengan mengarahkan petani terdampak untuk menanam palawija pengganti padi,” tukasnya. (krom)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
"Proses Tender Dituding Masih Berbau KKN" Taliwang, KOBAR - Banyaknya proyek bermasalah yang terjadi di…