BBU Belum Siap, Petani Terpaksa Andalkan Benih Luar

Taliwang, KOBAR – Petani di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) masih mengandalkan benih yang datang dari luar daerah, karena benih produksi dari Balai Benih Unggul (BBU) belum bisa memenuhi kebutuhan petani, termasuk tidak adanya petani penangkar benih dan kebiasaan petani menggunakan pupuk urea, adalah sekelumit wajah pertanian bumi pariri lema bariri.

Dari data milik Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian (Dishutbuntan) jumlah benih yang dibutuhkan ada pada kisaran 334 ton lebih dengan estimasi jumlah lahan seluas 11.149 dengan rincian, lahan irigasi seluas 8.279 hektar, lahan tadah hujan seluas 2.805 hektar dan lahan rawa lebak seluas 65 hektar. Jika setiap hektar membutuhkan 3 kilo, maka kebutuhan itu pada pada kisaran 334 ton lebih.

Kabid Pertanian pada Dishutbuntan, Rusdin SP MSi yang dikonfirmasi media ini dalam ruang kerjanya rabu 12/11 kemarin mengakui jika BBU belum mampu memproduksi benih kebutuhan petani. Selain itu juga, ada petani lebih memilih benih dari luar yang telah memiliki sertifikat dengan asumsi akan menghasilkan produksi lebih baik. “Pilihan ada pada petani, apalagi BBU sendiri belum mampu memenuhi kebutuhan petani itu sendiri,” ucap Rusdin.

Masih keterangan Rusdin, jumlah benih yang menjadi kebutuhan selama ini belum menjadi masalah, karena memang ada peredaran yang cukup banyak untuk benih, termasuk di Bumi Pariri Lema Bariri. Dari jumlah estimasi itu sendiri, pemerintah menyumbang dalam bentuk bantuan sosial (Bansos) benih sebanyak 76 ton, jadi setiap tahun tetap ada petani yang mendapatkan subsidi benih, termasuk mendapatkan benih gratis dari pemerintah.

Disampaikan Rusdin, kouta pupuk subsidi khusus urea untuk KSB ditahun 2014 sebanyak 4.840 ton, sementara yang sudah ditebus atau telah dipergunakan sampai saat ini sudah diangka 3.131 ton, sementara pupuk jenis lain masih cukup banyak stoknya, seperti jenis SP36 sebanyak 958 ton, ZA sebanyak 713 ton, NPK sebanyak 5.823 ton dan organik sebanyak 987 ton. “Petani kita masih lebih suka menggunakan pupuk urea, padahal ada pupuk NPK yang lengkap, tetapi tidak dilirik oleh petani,” tandasnya.

Menyinggung soal pupuk, Rusdin mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan di musim tanam mendatang, stok pupuk subsidi yang bisa dipergunakan tersisa 1.709 ton. Jika pupuk itu hanya untuk dipergunakan areal padi, maka bisa terpenuhi, sementara pupuk itu sendiri juga dipergunakan untuk penanaman jagung. “Jika dilihat dengan luas wilayah yang akan ditanam, maka perlu ada persiapan pemerintah untuk mendapatkan tambahan pupuk sebanyak 500 ton,” lanjutnya.

Untuk memenuhi kekurangan, salah satu langkah yang sudah dilakukan Dishutbuntan adalah melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi, dengan harapan bisa mengambil jatah kabupaten lain yang lebih, karena bisa saja terjadi bahwa ada kabupaten yang tidak bisa menghabiskan kouta pupuknya.

Opsi lain yang sedang dalam kajian adalah, pemerintah membeli pupuk non subsidi sebanyak kebutuhan saat ini, tinggal petani yang membeli dengan harga subsidi yang tidak sebesar subsidi dari pemerintah pusat. “Masih dilakukan analisa dan evaluasi model subsidi pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan pupuk tersebut,” terangnya lagi. (kimt)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Taliwang, KOBAR - Acara penyusunan pra Rencana Kerja Anggaran (RKA) untuk masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah…