);

282 Warga KSB Menderita Sakit Jiwa

Taliwang, KOBAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), mengaku, telah dan akan terus melakukan upaya maksimal untuk memenuhi sarana dan prasarana pendukung penanganan pasien penderita sakit jiwa (orang gila, red) yang ada di wilayah KSB. Meskipun demikian, masih adanya sejumlah orang gila yang berkeliaran menjadi sorotan publik.

“Orang gila kok masih ada yang berkeliaran mas!. Bukannya sudah ada program daerah terkait penanggulangan orang gila ya?. Seharusnya hasil kerja pemerintah selama ini sudah terlihat dan bisa dirasakan. Malah dari tahun ke tahun, yang berkeliaran yang itu-itu saja, atau mungkin dari pemeriksaan medis mereka tidak gila ya?,” kata Anita, Warga Kelurahan Bugis, kepada awak media ini, kemarin.

Menurut Anita, dengan masih terlihat adanya orang gila berkeliaran membuat dirinya bingung dan heran, seperti apakah kriteria orang sakit jiwa menurut pemerintah. Maklum orang gila yang terlihat berkeliaran selama ini adalah orang itu-itu saja. Seakan mereka selama ini tidak pernah tersentuh perawatan medis sama sekali.

Baca Juga :  Hatta Hadirkan Pejabat untuk Jawab Aspirasi Masyarakat

“Badan Kesehatan Dunia atau WHO mendefinisikan sehat sebagai tidak hanya sekedar bebas dari penyakit. Tetapi sebagai kondisi sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara ekonomis. Seseorang yang sehat tidak hanya mengalami keluhan fisik, tapi juga harus merasa terbebas dari tekanan psikologis dan bisa berinteraksi serta berperan secara sosial dengan lingkungannya,” cetus Anita, Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Pulau Jawa.

Anita menambahkan, meskipun mungkin dari hasil pemeriksaan medis, mereka yang berkeliaran itu tidak gila. Melihat dari kondisi fisik dan jiwa yang tidak normal seperti orang kebanyakan, Pemerintah semestinya mengambil tindakan tegas, bila perlu dipaksa untuk dirawat, agar tidak meresahkan masyarakat, dan tidak membuat diri mereka celaka.

“Kasihan mereka itu. Seharusnya pemerintah tidak perlu menunggu mereka diantar oleh pihak keluarga. Pihak berwenang bisa saja melakukan perawatan paksa kepada orang gila yang selama ini berkeliaran, agar mereka bisa kembali normal seperti sediakala,” tutur Anita.

Menanggapi sorotan masyarakat atas kinerja pemerintah terhadap penanganan orang gila di KSB, H Tuwuh SAP, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) KSB, saat ditemui awak media ini, mengatakan, bahwa hampir semua orang sakit jiwa di KSB telah didata pihaknya. Dan langkah medis yang dianggap perlu pun telah dilakukan pihaknya. Bahkan sejak tahun 2016, Pemerintah KSB telah mencanangkan Sistem Pelayanan Kesehatan Jiwa Berbasis Buku Kontrol (SPKJ SIBUK), di Puskesmas, terutama di Puskesmas Taliwang.

Baca Juga :  Manajemen RSUD Didesak Untuk Dievaluasi

“Ada 282 orang penderita sakit jiwa yang telah berhasil kami data di KSB. 120 orang ada di Kecamatan Taliwang, sisanya tersebar di Kecamatan lain. Untuk perawatan mereka, kita telah bekerjasama dengan RSJ yang ada di Mataram. Saat ini saja, ada 35 orang dari KSB yang dirujuk ke sana,” ungkap Tuwuh.

Ia pun mengakui, bahwa meskipun pihaknya telah merawat orang gila yang ada, namun masih banyak penderita gangguan jiwa dan psikologis yang hingga saat ini sering kambuh dan sulit disembuhkan. Pertolongan pertama yang sebenarnya bisa dilakukan oleh keluarga atau lingkungan sekitar, namun sering diabaikan. Bahkan mereka sering memandang sebelah mata kepada para penderita gangguan jiwa. Akibatnya, banyak pasien yang kembali lagi dirawat di rumah sakit.

“Lingkungan terdekat seperti keluarga dan masyarakat sekitar sebenarnya bisa mendeteksi awal adanya gangguan kesehatan jiwa dan bisa memberikan pertolongan pertama. Tapi sering kali mereka dipandang sebelah mata dan diabaikan dan tidak tertangani dengan baik,” ujar Tuwuh.

Baca Juga :  Sumbawa Barat Darurat Narkoba, Para Tokoh Serukan Perang

Dia menjelaskan, bahwa rehabilitasi terhadap penderita gangguan kesehatan jiwa membutuhkan kerjasama dari semua pihak. Banyak kasus, pasien yang direhabilitasi, divonis sudah membaik dan dibolehkan pulang. Namun seringkali keluarga di rumah tidak mau peduli dan mengabaikan mereka. Akibatnya, pasien tersebut kembali kambuh dan harus dirawat ulang.

“Dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan dalam proses perawatan mereka. Kebanyakan kasus yang kami dapatkan, keluarga acu tak acu dalam proses penyembuhan pasien. Kami tidak bisa mengambil tindakan memaksa. Kami bekerja atas dasar pengaduan masyarakat atau atas permintaan keluarga yang bersangkutan,” tutup Kepala Dinkes KSB. (kdon)

Bagikan di :

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Taliwang, KOBAR - Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyatakan akan serius menangani trauma yang diderita masyarakat…