Orang Gila Harus Dirawat

Kesehatan merupakan aspek penting dari Hak Asasi Manusia (HAM), sebagaimana disebutkan dalam Deklarasi HAM, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tahun 1948, yang menyatakan, bahwa setiap orang berhak atas taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan keluarganya. Sebagai HAM, maka hak kesehatan adalah hak yang melekat pada seseorang karena kelahirannya sebagai manusia, bukan karena pemberian seseorang atau negara. Oleh sebab itu, hak itu tidak dapat dicabut dan dilanggar oleh siapa pun. Sehingga perlakuan terhadap orang yang memiliki gangguan jiwa atau orang gila dengan cara dikurung atau dipasung dapat dianggap sebagai perbuatan melanggar HAM. Sekalipun dilakukan oleh keluarganya dengan tujuan keamanan untuk dirinya sendiri dan orang-orang sekitar, tetap saja hal itu merupakan perbuatan yang dikategorikan sebagai perampasan hak untuk hidup secara layak. Karena Pada dasarnya, setiap manusia berhak untuk hidup bebas dari penyiksaan, sebagaimana termaktub dalam UUD 45 Pasal 28G ayat 2 dan Pasal 28I ayat 1, yang menyatakan, bahwa setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia. Selain melanggar HAM, keluarga yang melakukan pengurungan atau pemasungan dapat terjerat Pasal 333, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang pada ayat 1 menyebutkan; Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum merampas kemerdekaan seseorang, atau meneruskan perampasan kemerdekaan yang demikian, diancam dengan pidana penjara paling lama 8 tahun. Walaupun tidak boleh dikurung atau dipasung, akan tetapi bukan berarti keluarga dapat membiarkan orang gila tersebut berkeliaran secara bebas. Karena jika keluarga membiarkan orang gila tersebut berkeliaran secara bebas, keluarga dapat juga dijerat dengan Pasal 491 butir 1 KUHP, dengan ancaman pidana denda. Karenanya, tetaplah merupakan kewajiban moril dan moral dari keluarga yang bersangkutan untuk merawat keluarganya yang sakit sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi, mengingat keterbatasan kemampuan warga pada umumnya, maka masih bisa disaksikan adanya orang gila yang berkeliaran tanpa penjagaan. Tetapi hal ini masih lebih manusiawi dibandingkan dengan jika mereka dipasung. Oleh karena itu, akan lebih baik jika orang gila tersebut dimasukkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan yang semestinya, agar tidak meresahkan masyarakat dan mengganggu ketertiban umum. **

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Taliwang, KOBAR - Masa kampanye Pemilu 2019 akan dimulai pada 23 September mendatang. Untuk itu, Komisi…