Masyarakat Didorong Budidaya Kelapa Kopyor

“Bernilai Ekonomis Tinggi dan Bisa Ditanam di Pekarangan”

Taliwang, KOBAR – Saat ini, pohon kelapa kopyor sudah banyak dibudidayakan. Bahkan budidaya kelapa kopyor tidak memerlukan lahan berhektar-hektar. Cukup ditanam di pekarangan, kelapa kopyor bisa berkembang biak dan menghasilkan. Yang menarik lagi, mulai tanam hingga berbuah hanya membutuhkan waktu 3,5 tahun. Waktu yang cukup singkat, dibandingkan dengan tanaman kelapa pada umumnya. Belum lagi nilai jual buah kelapa kopyor yang cukup tinggi, menjadikannya peluang usaha yang sangat menjanjikan.

Atas dasar itulah, Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (DPPP) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), mendorong masyarakat agar membudidaya kelapa kopyor. Kepala DPPP KSB, drh Hairul Jibril MM, melalui Kepala Seksi Sarana Prasarana (Kasi Sarpras), Noval Juli Rahman SE, kepada awak media ini mengungkapkan, bahwa pihaknya, sejak tiga tahun silam, telah mendorong masyarakat untuk membudidayakan tanaman kelapa kopyor. Sebanyak 300 pohon bibit kelapa kopyor telah dibagikan kepada masyarakat di Kecamatan Sekongkang dan Kecamatan Maluk.

Noval Juli Rahman, SE.

“Sejak kami bagikan hingga sekarang, bibit kelapa kopyor yang ditanam masyarakat Sekongkang dan Maluk tumbuh baik. Bahkan sudah ada yang berbuah,” ungkap Noval.

Menurutnya, membudidayakan tanaman kelapa kopyor boleh dibilang gampang, bisa juga susah. Dikatakan gampang, apabila orang yang menanamnya memilih metode yang sesuai dan menjalankan langkah-langkahnya dengan tepat. Namun bisa jadi susah, bahkan gagal kalau salah memilih metode atau menjalankan langkah-langkahnya. Kelapa kopyor sebenarnya adalah pohon buah kelapa biasa yang mengalami kelainan saat pertumbuhan dan perkembangannya. Apabila dilihat sekilas, fisik buah kelapa kopyor tidak cantik seperti buah kelapa normal. Bagian dalamnya terlihat bergumpal-gumpal, tercampur aduk dan berantakan. Sehingga dinamakan kopyor, atau yang berarti buruk rupa.

“Jenis kelapa kopyor ini bisa tumbuh di segala jenis tanah dan medan tanah, dan paling cocok untuk tanah merah dan gambut. Kelapa ini memang benar-benar beda dengan yang biasa kita lihat pada umumnya. Ukurannya tergolong kecil, tingginya hanya berkisar antara satu hingga dua meter saja. Buahnya juga manis dan jelas gampang dipetik karena nggak perlu susah manjat,” lanjutnya.

Noval juga menuturkan, bahwa pertumbuhan yang tidak terlalu besar, lebih menguntungkan dalam penghematan lahan. Waktu yang dibutuhkan relatif singkat untuk berbuah, membuat penghematan dalam waktu. Biaya perawatan yang relatif singkat, menghemat biaya perawatan dan modal. Harga bibit yang relatif murah, menjadikan hemat biaya dan modal awal.

“Karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi, serta pola tanamnya yang tergolong mudah dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Maka kami akan terus mendorong masyarakat KSB agar membudidaya jenis kelapa ini,” tukasnya.

Ia menjelaskan, bahwa pada dasarnya, kelapa kopyor merupakan tanaman dataran rendah, sehingga bibit kelapa kopyor ini akan mampu tumbuh dengan optimal pada dataran rendah, khususnya pada daerah pinggir laut hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Namun, untuk hasil produksi yang maksimal, pohon kelapa kopyor sebaiknya ditanam pada ketinggian antara 0-450 m dpl.

“Makanya, Sekongkang dan Maluk kami jadikan target pertama budidaya kelapa kopyor. Maklum wilayah tersebut kami nilai layak dan memenuhi syarat untuk budidaya kelapa kopyor. Kedepan kami akan sasar wilayah lain yang sejenis,” tutup Noval. (kdon)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Taliwang,  KOBAR - Seni budaya di suatu tempat dapat menjadi identitas suatu daerah. Tentunya suatu daerah…