Kebijakan PTAMNT ‘Mengandangkan’ Karyawan Timbulkan Gejolak

“Pemerintah Didesak Turun Tangan”

Maluk, KOBAR – Kebijakan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) mewajibkan seluruh karyawannya tinggal di camp dalam lokasi tambang, ternyata menimbulkan efek lesunya perekonomian masyarakat di lingkar tambang. Akibatnya, saat ini banyak usaha-usaha kecil masyarakat setempat sepi pengunjung dan bahkan terpaksa gulung tikar.

Salah seorang pedagang kios sekaligus pemilik kos di Desa Pasir Putih, Kecamatan Maluk, Agus Salim, mengaku sejak beberapa bulan ini usaha yang dijalankannya cenderung lesu. Ia kehilangan pendapatan dikarenakan kebijakan perusahaan yang tidak memperbolehkan lagi  karyawannya tinggal di luar lokasi tambang.

“Selama ini karyawan perusahaan adalah sumber mata pencaharian kami. Setiap hari berjualan, pelanggannya ya karyawan. Saya juga punya kos-kosan, penghuninya juga karyawan. Kalau kebijakan perusahaan seperti ini, sama artinya dengan membunuh kami secara perlahan,” ungkapnya.

Agus juga mengaku heran dengan kebijakan perusahaan kepada karyawannya yang cenderung sepihak. Menurutnya, perusahaan memainkan perannya sendiri tanpa memikirkan keberlanjutan ekonomi maupun usaha masyarakat setempat sehingga membuat tatanan masyarakat yang sudah lama berjalan baik menjadi kocar-kacir.

“Ini menandakan perusahaan hanya berorientasi memikirkan profit atau keuntungan saja, tetapi tidak memperhatikan aspek ekonomi  berupa kesejahteraan dan keberlanjutan usaha-usaha masyarakat,” cetusnya.

Senada dengan hal tersebut, tokoh masyarakat Desa Kemuning, Kecamatan Sekongkang, Syarifuddin Aziz, menekankan pihak perusahaan untuk memperhatikan ekonomi masyarakat desa di sekitar lokasi kegiatan usaha mereka.

“Ingin kami tegaskan, perusahaan jangan hanya ingin mengeruk keuntungan semata, tetapi harus peduli dengan masyarakat desa di tempatnya beroperasi,” tukasnya.

Dia juga mengatakan, sejak PTAMNT resmi beroperasi, kepedulian perusahaan terhadap perekonomian masyarakat lokal masih sangat minim. Hingga  berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat desa di sekitar perusahaan menjadi tidak bisa berkembang.

“Kita ingin perusahaan bisa menjadi bagian dari kemajuan dan peningkatan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Jika masyarakat mendapatkan manfaat secara optimal, tentunya kegiatan usaha perusahaan juga akan berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Untuk itu ia meminta agar Pemerintah Daerah (Pemda) melalui dinas terkait, turun tangan memikirkan keberlanjutan usaha yang dijalankan masyarakat. Pemerintah diharapkan dapat melakukan pembicaraan lebih serius dengan pihak perusahaan, serta berani bertindak tegas atas kebijakan yang diterapkan perusahaan.

“Ini penting dilakukan karena keberadaan perusahaan sudah semestinya membawa dampak positif bagi masyarakat, bukan sebaliknya,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumbawa Barat,  H. Abdul Hamid, S.Pd, tak memungkiri jika  kebijakan PTAMNT yang mewajibkan karyawannya tinggal di camp telah membuat sejumlah usaha kecil di wilayah setempat kehilangan mata pencaharian. Padahal untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, perusahaan sudah semestinya menerapkan kebijakan-kebijakan yang saling menguntungkan.

“Sebelum membuat kebijakan, perusahaan semestinya memantau situasi maupun kondisi ekonomi di tengah masyarakat, serta menimbang implikasinya. Jangan malah membuat kebijakan yang bisa-bisa menimbulkan konflik. Kalau pekerja dibiarkan tinggal di luar lokasi tambang, tentu akan dapat membantu pendapatan masyarakat yang memiliki usaha. Semisal usaha kos-kosan, kios dan pedagang kecil lainnya,” katanya.

Menurutnya, sudah menjadi tugas dan kewajiban pemerintah untuk tetap  memperkuat dan memperhatikan ekonomi dan usaha-usaha kerakyatan yang ada. Untuk itu pihaknya sudah menjadwalkan untuk mengkoordinasikan hal itu dengan managemen perusahaan.

”Kita akan coba bicarakan hal ini dengan perusahaan. Setidaknya, dari hasil pertemuan itu nanti diharapkan lahir kebijakan perusahaan yang dapat menguntungkan, hingga menumbuhkan usaha-usaha kecil di wilayah setempat,” pungkasnya. (ktas)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
“Baliho Rangka Bambu Ambruk Diterpa Angin” Taliwang, KOBAR - Sejumlah alat peraga kampanye (APK) Paslon Pilkada…