Pol PP Siap Hadang Mantan Pekerja Cafe Batu Guring

Taliwang, KOBAR – Pasca Penutupan sejumlah tempat hiburan malam di wilayah Batu Guring, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa. Gelombang eksodus pekerja Cafe di lokasi tersebut, disinyalir sudah merambah masuk ke Balad dan Maluk, Sumbawa Barat. Agar tidak menimbulkan efek negatif, pemerintah setempat, perlu segera melakukan langkah-langkah taktis dan bermartabat.

Kepala Dinas Satpol PP Sumbawa Barat, Sihabudin AP, mengaku telah memantau kemungkinan perpindahan itu. Namun sampai saat ini, pihaknya belum menerima informasi valid soal sudah adanya para mantan pekerja cafe itu masuk ke Sumbawa Barat.

“Belum ada yang melapor ke kami kalau ada eksodus. Selentingan juga belum. Tapi tetap kami pantau dan waspadai,” ujarnya.

Menurut Sihab, ketika sejumlah Cafe di Batu Guring tak lagi beroperasi, bisa saja pekerja yang ada di sana bereksodus ke daerah lain, termasuk Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), mengingat jarak yang relatif dekat. Apalagi di beberapa titik di wilayah KSB  banyak berdiri tempat hiburan malam.

Untuk itu, kata dia, peningkatan operasi kependudukan (operasi yustisi),  akan digiatkan dengan menyasar seluruh tempat hiburan malam,  penginapan, rumah kontrakan, dan kost-kostan.

“Antisipasi sudah pasti akan dilakukan. Salah satunya dengan upaya menggiatkan operasi kependudukan itu tadi,” tegasnya.

Berbicara eksodus, tambah Sihab, tentu berkaitan erat dengan masalah kependudukan. Dan ini yang menjadi garda terdepannya adalah RT/RW dalam melakukan pendataan seluruh penduduk baru yang datang. Ketua RT merupakan mitra kerja serta kepanjangan tangan Pemerintah untuk membuka stelsel aktif pelaporan perpindahan penduduk, sehingga diharapkan dapat lebih tegas melakukan pendataan perpindahan warga, termasuk eksodus tadi.

“Kuncinya di ketua RT/RW, kalau tidak terima surat pindah, jangan pernah menerima setiap perpindahan,” imbuhnya.

Sesuai ketentuan, lanjut Sihab, setiap pendatang ke suatu wilayah wajib melaporkan diri ke ketua RT/RW dalam waktu 1×24 jam. Selanjutnya, masing-masing Ketua RT/RW tentu melakukan pemantauan dan pendataan atas setiap warga baru yang datang ke wilayahnya.

“Demikian juga bila benar waitres tersebut tinggal di kamar kost, maka pemilik usaha kost wajib melaporkan penghuni kostnya secara berjenjang sesuai ketentuan berlaku. Termasuk memastikan tidak boleh tinggal sekamar dengan bukan pasangannya alias kumpul kebo,” demikian Sihab. (ktas)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Publik di Sumbawa Barat sejauh ini terus menyoal tentang ada dan tidaknya izin keberangkatan Bupati…