Disparekraf Ingin Mandiri Menata dan Mengelola Desa Mantar

Abdul Razak: Kita Tak Bisa Selalu Mengandalkan Newmont

Taliwang, KOBAR – Pengembangan terhadap Desa Mantar Kecamatan Poto Tano sebagai desa tujuan wisata, nampaknya menjadi fokus perhatian Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Desa yang mulai menasional namanya melalui spot paralayang, hasil tenun dan Desa wisata budaya tersebut, membuat pemerintah harus menyusun sebuah rencana pembangunan yang terukur dan sistimatis (landscape), agar potensi yang dimiliki desa mantar selalu tetap terjaga dan bisa dijual.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) melalui Kepala Bidang Pemasaran dan Pengembangan Destinasi, Abdul Razak, mengatakan, penyusunan landscape terhadap pengembangan potensi  Desa Mantar, dipandang sangat perlu.

Menurutnya, meski saat ini penanganan penataannya masih bekerjasama dengan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), namun ia tidak yakin selamanya akan berlanjut.

“Hal itu harus mulai dipikirkan mulai sekarang. Karena biar bagaimanapun juga perusahaan tersebut suatu saat tentu akan berhenti karena terbentur amanat kontrak dengan pemerintah pusat,” ujarnya.

Ia menerangkan, saat ini pihaknya telah menyusun rencana besar untuk pengembangan potensi Desa Mantar, termasuk menginvetarisir sejumlah masalah seperti ketersedian lahan parkir, infrastruktur jalan hingga perlunya dilakukan pelatihan bahasa Inggris bagi masyarakat setempat.

Untuk menuntaskan permasalahan tersebut, pihaknya bahkan telah  membangun komunikasi lintas sektoral dengan instansi terkait. Seperti, mengenai infrastruktur jalan, telah dikoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

“Penyelenggaraan pelatihan bahasa asing bagi masyarakat setempat juga sangat perlu, karena berguna untuk memudahkan komunikasi antara para wisatawan asing dengan masyarakat setempat,” timpalnya.

Razak tidak memungkiri jika sejauh ini, pihaknya terus berupaya mencari solusi agar lahan parkir khususnya di area spot paralayang bisa tersedia. Ia menginginkan dengan ketersediaan lahan parkir tersebut nantinya dapat berkontribusi bagi pendapatan daerah atas hasil penarikan retribusi yang ditetapkan.

“Di beberapa daerah, seperti Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, hal seperti itu sudah dijalankan. Hampir tiap bulan, pemasukan ke kas daerah dari parkir untuk area parkir spot paralayang, mencapai Rp 200 juta perbulan. Kita ingin seperti itu. Kita akan kelola sedemikian rupa, agar parkir spot paralayang juga berkontribusi untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) meskipun tidak pada angka signifikan,” imbuhnya.

Mengenai promosi, pihaknya telah merencanakan untuk menggelar event khusus promosi bertajukkan Festival Mantar ke-1 yang direncanakan terselenggara pada November 2016 mendatang bertepatan dengan Harlah daerah ke-13.

“Melalui momentum tersebut, diharapkan nama Desa Mantar dengan segala potensinya akan semakin dikenal. Dalam hal ini, tentu pemerintah harus tetap memberikan penekanan terhadap pelayanan dan perbaikannya,” tandasnya. (kjon)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

One thought on “Disparekraf Ingin Mandiri Menata dan Mengelola Desa Mantar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Taliwang, KOBAR - Banjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Brang Rea pekan lalu, mengakibatkan sejumlah fasilitas…