Sejarah Penanggalan Hijriyah dan Masehi

Oleh: Sofian Hadi

 إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah, Ayat 36)[1]

Budaya menghitung tanggal di Indonesia telah banyak dipengaruhi oleh perhitungan menggunakan kalender Masehi. Jika dahulu para orangtua kita menghitung tanggal dengan menyebutkan bulan Hijriayah, maka diera modern ini nama bulan Hijriyah lebih konservatif daripada penanggalan bulan Masehi. Memang tidak bisa dipungkiri, kalender Masehi pada abad ini jauh lebih popular dari penanggalan kalender Hijriyah. Hal ini salah satunya karena mengikuti sistem pemerintahan yang menggunakan penanggalan Masehi disetiap kalender yang disebarkan kepada masyarakat luas. Padahal, jika dihitung secara kuantitas, masyarakat Indonesia mayoritas ber-KTP-kan Islam daripada non-Islam. Berkaca dari itu semua, karena pemerintah yang menjadi central power of government, maka semua system penanggalan dan lainnya diataur berdasaarkan kewenangan pemerintah.

Sampai saat ini, semuan penanggalan menggunakan kalender Masehi, justru menjadi pertanyaan besar kenapa Muslim yang mayoritas di Indonesia ini tidak satu pun yang peduli untuk melestarikan identitasa peradaban Islam? Pelestarian kalender Islam diera milenial ini hanya sebagian kecil digunakan di lembaga swasta atau kalangan pondok pesantren, madrasah dan yayasan Islam. Selain itu maka mayoritas di perkantoran, sekolah, dinas, hotel, dan lembaga yang langsung dibawahi oleh pemerintahan pusat.

Disatu sisi, masyarakat yang mayoritas muslim seolah-olah sudah phobia dengan nilai peradaban Islam itu sendiri. Muslim lebih memilih hasil karyacipta non-muslim daripada karya atau warisan Islam. Sangat ironis, muslim yang kuantitasnya mendunia tidak mampu menduniakan nilai dan peninggalan Islam. Mungkin ini menandakan bahwa persatuan antara umat Islam dalam menangkal doktrin sekuler dan dogma sekularisasi butuh keseriusan. Apalagi diera yang penuh dengan tanda-tanda akhir zaman ini.

Kembali kepada kalender Hijriyah dan Masehi, sebagai umat Islam, kita harus tahu kenapa tahun Masehi lebih popular daripada tahun Hijriyah. Pertama, merosotnya penanggalan Hijriyah berangsur dengan jatuhnya peradaban Islam. Jatuhnya kerajaan Abbasiyah oleh serangan pasukan Tartar dan Mongol pada masa pertengahan abad ke -13 M. pada saat itu Baghdad menjadi pusat ilmu dan kebudayaan Islam di luluhlantakkan. Kurang lebih 800.000 penduduk Baghdad di bantai. Perpustakaan dihancurkan, rumah penduduk dirobohkan dan diratakan dengan tanah. Buku yang menjadi sumber ilmu dan kejayaan Islam dan penemuan berharga tentang sains, filsafat dan intelektualisme islam dibuang, dibakar hingga laut menjadi hitam dengan tinta. Seiring dengan dengan runtuhnya peradaban islam saat itu, masyarakat dunia pun berpindah mazhab. Yang awalnya memakai mazhab peradaban Islam, beralih menggunakan mazhab Eropa, termasuk dalam penggunaan sistem kalender.[2]

Kedua, rendahnya kecintaan ummat muslim terhadap nilai peradaban Islam. Di jaman ini, umat Islam lebih bangga menggunakan hasil karya cipta Barat daripada karya cipta Islam. kita bisa lihat sekarang, kalender yang menggunaka nama-nama bulan Hijriyah tidak laku dipasaran. Muslim lebih memilih kalender yang dimulai dengan huruf Januari daripada Muharram. Kalau ditanya, kenapa tidak memilih atau membeli kalender Islam? jawabannya adalah sulit menghafal nama bulan-bulan dalam Islam. Subhanallah. Kalau jawaban sudah seperti ini, maka pantaslah generasi Islam sekarang telah lupa dengan sejarah keemasan agamanya.

Apabila mereka tahu sejarah bulan Januari, maka pasti mereka akan sadar kalau kalender Masehi adalah upaya kaum sekuler yang ingin membuang nilai Islam dalam kehidupan berinterkasi di dinia ini. Bila ditilik dari sejarah, Januari diambil dari nama dewa bangsa Roma yaitu dewa dengan dua wajah bernama Janus. Kedua wajah dewa ini bertolak belakang, satu wajah menatap ke depan dan lainnya menoleh ke belakang. Ini menandakan perlambangan tatapan masa lalu dan pandangan ke masa depan. Janus akhirnya menjadi Januari. Sampai saat ini bulan Januari dijadiakan bulan pemisah antara tahun lalu dan tahun baru.

Januari. Kata ini diambil dari nama dewa bangsa Roma yaitu dewa dengan dua wajah bernama Janus. Kedua wajah yang bertolak belakang itu, satu menatap ke depan dan lainnya menoleh ke belakang sebagai perlambang tatapan masa lalu dan pandangan ke masa depan. Janus yang akhirnya menjadi Januari sampai saat ini dijadikan bulan mawas diri sebagai pemisah tahun lalu dan tahun yang baru.[3]

Ketiga, kesuksesan kaum sekular yang membenci nilai dan peradaban Islam, sehingga menggantinya dengan kalender Masehi. Maka saat ini, tidak akan kita temuakan di tempat-tempat mewah di rumah presiden, pejabat dan para orang-orang elite menggunakan penggalan Hijriyah, semua pasti menggunakan penanggalan sekular itu. Alhasil, perayaan tahun baru Masehi tumpah ruah, gegap gempita dalam perayaannya. Bahkan hal yang sangat tidak masuk akal, para anak muda menunggu perubahan menit pukul 00:01 malam untuk merayakan tahun baru masehi tersebut. Akan terlihat kontras dengan perayaan tahun baru Islam tanpa ada perayaan yang berarti.

Agar pengetehuan kaum muslimi tentang sejarah bulan Masehi sangat kurang, sehingga perlu adanya rekonstruksi khazanah kejayaan Islam, untuk menyadarkan umat Islam yang sudah jauh termakan hegemoni Barat. Perlu dibahas akar sejarah tentang kalender Masehi agar lebih jelas dan kaum muslimin tidak salah kaprah dalam melakukan perayaan tahun baru. Dalam majalah Hidayatullah edisi 30 Desember 2013, redaksi Hidayatullah memberikan pemaparan ringkas bagaimana sejarah tahun Masehi tersebut.

Ustadz Choirul Anam, dalam pemaparannya, mengutarakan bahwa tahun baru Masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, diputuskanlah untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Dari fakta sejarah itu, elemen umat Islam menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Mengutip pendapat ulama kontemporer, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah, menjelaskan bahwa perayaan tahun baru itu termasuk merayakan ‘ied (hari raya) yang tidak disyariatkan karena hari raya kaum muslimin hanya ada dua yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Menentukan suatu hari menjadi perayaan (‘ied) adalah bagian dari syari’at (sehingga butuh dalil).

Apalagi, jika melihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Karena hal tersebut bukan budaya bangsa dan bertentangan dengan nilai-nilai agung ajaran Islam, elemen umat di Medan pun menolak perayaan tahun baru Masehi tersebut.

“Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit,” bunyi pernyataan itu.

Merayakan tahun baru dinilai termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang manfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan.

“Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru Masehi. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah, bukan dengan menerjang larangan Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya”[4]

Sebagai akhir dari tulisan ini, diharapan kepada kaum muslimin agar mulai merapatkan barisan, membentuk shaf-shaf yang rapat untuk memangkal perluasan intelektual Barat. Generasi Islam harus optimis kita akan bangkit melawan segala propaganda Barat tanpa pandang bulu. Kita muali dari hal-hal kecil seperti menghafal nama-nama bulan Hijriyah dalam Islam.

مُحَرَّمٌ  = muharram, صَفَرٌ  = shafar, رَبِيْعُ الأَوَّل  = rabii’ul awwal, رَبِيْعُ الآخِر  = rabii’ul aakhir, جُمَادَى الأُوْلَى  = jumaadal uulaa, جُمَادَى الآخِرَة   = jumaadal aakhirah,

رَجَبٌ  = rajab, شَعْبَانُ  = sya’baan, رَمَضَانُ  = ramadhaan, شَوَّالٌ  = syawwal, ذُو القَعْدَةِ  = dzulqa’dah, ذُو الحِجَّةِ  = dzulhijjah.

– Penulis Adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor, Jurusan Akidah dan Filsafat Islam.

———————————————-

Refensi Bacaan:

[1] http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-at-taubah-ayat-36-49.html

[2] Hijriah vs Masehi – dakwatuna.com.htm

[3] Silakan akses, Hijriyah Vs Masehi _ NU Online.htm

[4] Lihat majalah, Hidayatullah dan Umat Islam Sumut Tolak Perayaan Tahun Baru Masehi _ Hidayatullah.or.id.htm

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Para pejabat di lingkup Pemkab Sumbawa Barat ditekankan agar dapat menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara…