Kriteria Pemimpin Masa Depan

Oleh: Sofian Hadi

Menyoroti berbagai persoalan kepemimpinan yang muncul di belahan wilayah, kota dan daerah yang ada di Indonesia saat ini begitu kompleks dan bersifat sustainable (berkelanjutan). Dalam teropong masyarakat, terjadinya persoalan tersebut dalam setiap wilayah di Indonesia karena berbagai sebab; salah satu sebab yang mandasar adalah krisisnya jiwa kepemimpinan yang dimiliki oleh para generasi pemimpin bangsa. Jiwa kepemimpinan yang dimiliki oleh generasi bangsa ini terlampau rapuh dan lemah. Padahal untuk mencapai sebuah keberhasilan dalam kepemimpinan harus memenuhi standar dasar seorang pemimpin yang dapat menghantarkannya mampu bertindak, mengemban, berperan, dan bertanggung jawab terhadap kerja-kerja pokoknya sebagai pemimpin dalam mengektualisasikan visi dan misi Negara.[1] Kepemimpinan sering didefinisikan sebagai kemampuan mempengaruhi kelompok untuk dapat mencapai tujuan.[2] Pertanyaannya bagaimana seorang pemimpin akan menjalankan tanggungjawab kepemimpinanya kalau jiwa kepemimpinanya masih sangat kurang? Dalam essay yang singkat ini, penulis akan mencoba menguraikan beberapa kriteria calon pemimpin masa depan yang elektabilitas kepemimpinanya dapat diterima di tengah-tengah masyarakat.

Menurut kamus Cambride Avanced Learner’s Dictionary; The leadership a person or people in charge of an organization. Secara etimologi, kepemimpinan itu berasal dari kata pimpin atau lead yang mana definisinya, to control of a group of people, a country or a situation.[3] Secara terminologi kata leader/pemimpin tersebut mengandung arti; seseorang yang mengontrol/mengendalikan suatu kelompok atau Negara.[4] Dalam pengertian lain, pemimpin merupakan sebuah kedudukan atau sebuah posisi semata.[5] Maka dalam konteks kedudukan dan posisi harus dimaknai sebagai wadah yang legal digunakan untuk memberikan berbagai pelayanan yang dibutuhkan oleh para bawahannya. Bukan sebaliknya menghalalkan segala cara untuk melegalkan kepamimpinanya dalam mencapai suatu tujuan. Ketika banyak orang yang perpandangan sepertia ini maka dia akan menggunakan kedudukan dan posisinya sebagai langkah negative untuk melanggengkan kedudukan dan posisinya. Hal inilah yang sekarang sedang marak dilakukan oleh para pemimpin yang krisis jiwa kepemimpinannya.

Sebenarnya bagaimanakah kriteria calon pemimpin yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam kondisi saat ini.? Ibnu Taimiyah dalam bukunya mangatakan bahwa hakikat kepemiminan tidak bisa dilepaskan antara politik dan agama. Andaikata politik tidak diatur oleh agama justeru akan menjadikan politik itu liar dan jauh dari keadilan. Keseluruhan agama adalah pengetahuan dan keadilan.[6] Pernyataan Ibnu Taimiyah ini sebagai dasar untuk memahami kriteria jiwa pemimpin yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Kepemimpinan memang tidak bisa dipisahkan dari politik, karena mayoritas pemimpin diusung oleh berbagai koalisi politik, walaupun pada kenyataannya banyak juga pemimpin yang muncul bukan dari kader politik itu sendiri. Hal ini dapat kita saksiskan di berbagai Negara dan wilayah di dunia khususnya di Indonesia.

Terlepas dari persoalan politik dan diluar politik, agama merupakan pondasi kokoh dalam suatu kepimpinan. Banyak pemimpin yang mengesampingkan nilai ilahiyah dalam kepemimpinannya. Padahal hal tersebut  merupakan pilar utama yang akan mencegah dirinya melakukan berbagai penyimpangan dalam kepemimpinanya. Contoh real yang terjadi korupsi, otoriter, membuat hukum sendiri dan anti kritik.[7] Kriteria pemimpin seperti ini pada dasarnya telah menipu dan merugikan rakyat dan masyarakat.

Untuk menghindari penyimpangan, maka nilai agama harus dihadirkan dalam jiwa seorang pemimpin untuk menjaga keseimbangan roda kepemimpinnya. Ketika seorang pemimpin menyadari akan tugas yang diembannya maka dia akan berfikir bahwa tanggungjawab tersebut akan dinilai bukan hanya dihadapan masyarakat namun juga dihadapan Allah. Dengan menghadirkan peran agama dalam kepemimpinan seseorang masalah keadilan dapat direalisasikan. Sebagai contoh di Indonesia, Ridwan Kamil, sebagai Wali Kota Bandung periode 2013-2018.[8] Siapa yang tidak kenal Walikota Surabaya Risma atau nama lengkapnya Tri Rismaharani yang terpilih sebagi Walikota Surabaya 2010 – Sekarang. Prestasinya yang berhasil menutup lokasi Dolly Warga Tuna Susila (WTS) di Surabaya tepatnya dijalan Putat Jaya Surabaya. Mereka merupakan contoh pemimpin yang bukan hanya cerdas secara Intelektual namun cerdas secara Mental Spiritual. Sehingga mereka mendapat tempat di hati rakyatnya.

Pemimpin yang cerdas dan bijaksana itu adalah pemimpin yang dapat menciptakan integrasi politik, komunikasi dan bekerjasama dengan masyarakatnya. Karena dari kerjasama dan komunikasi yang baik akan mendatangkan kepercayaan dari masyarakat. Maka ketika masyarakat sudah percaya dengan pemimpinnya akan sangat mudah dalam melaksanakan semua program yang dicanangkan.

Seorang pemimpin ditaati dan dihormati bukan karena jabatan mereka. Namun, karena memberikan hak-hak masyarakat serta teagaknya nilai keadilan dalam system yang di pimpinnya.[9] Dalam bahasa lain seperti yang dikatakan oleh Muhammad Abduh bahwa seorang pemimpin itu mempunyai dua tugas, yakni beribadah kepada Allah dan berkhidmat kepada masyarakat. Untuk beribadah diperlukan iman. Dan untuk berkhidmat diperlukan ilmu.[10]

Selanjutnya kriteria pemimpin masa depan adalah pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang jelas. Serta dia tidak gampang tergoda oleh berbagai keuntungan jangka pendek yang akan menjatuhkan wibawa dan harga dirinya di depan masyarakat.[11] Seorang pemimpin dituntut untuk dapat membaca kondisi masyarakat dan wilayah yang di pimpinnya. Sangat mustahil  pemimpin akan memberikan sebuah keadilan yang merata, ketika dia tidak bisa membaca peta wilayah yang dipimpinnya. Pemimpin kadang-kadang tidak pernah melihat keadaaan real masyarakat bawah, atau masyarakat yang hidup di daerah yang sulit untuk dilalui oleh kendaraan. Maka dari itu sebagi pemimpin harus bijaksana dan bertanggungjawab dengan masyarakat bawah, apalagi ketika masyarakat tersebut tertimpa musibah atau bencana alam yang mewajibkan pemimpin untuk langsung turun tangan. Mungkin hal ini dipandang kecil dan biasa, namun hakekat yang sebenarnya bentuk partisipasi pemimpin seperti itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat bawah.

Tingkat keberhasilan seseorang ditentukan pada seberapa tinggi tingkat kepemimpinannya. Tingkat kepemimpinan seseorang juga menetukan seberapa besar dan seberapa jauh tingkat pengaruhnya.[12] Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus dapat memberikan pengaruh positif terhadap yang dipimpinnya. Pengaruh positif disini artinya yang dapat menggerakkan jiwa masyarakat tersebut untuk selalu mendukung dan memberikan dorongan moril bagi kepemimpinanya. Pemimpin harus berjiwa besar ketika dia dikritik oleh masyarakatnya. Kritik tersebut harus dijadikan bahan eveluasi dalam mengambil beberapa kebijakan yang lebih baik. Jika seorang pemimpin tidak menerima kritik, saran dan masukan dari rakyatnya, maka dia tidak termasuk pemimpin yang adil dan bertanggung jawab. Padahal dalam menegakkan keadilan dalam kepemimpinan adalah tanggung jawab besar. Menurut Al Attas terciptanya keadilan karena adab diterapkan. “Loss of adab implies loss of justice”[13] Lawan dari keadilan adalah kezaliman. Ketika pemimpin tidak dapat memberikan keadilan kepada rakyatnya, maka sebenarnya dia sedang menzalimi rakyatnya.

Mayoritas pemimpin pada saat ini hanya haus jabatan dan kedudukan. Sehingga dampak dari kepemimpinannya tidak memberikan hak-hak dan keadilan kepada masyarakat. Berbagai jenis proyek atau bantuan baik itu dari pemerintah pusat dan instansi lain dihabiskan bukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Akan tetapi untuk memperkaya dirinya sendiri dan keluarga. Membangun rumah mewah, membeli kendaraan mahal dan malu untuk terlihat sederhana di depan rakyatnya. Stigma dan kondisi seperti ini membuat masyarakat pada saat ini lebih kritis dan selektif dalam memilih calon pemimpin yang yang ideal menurut analisis mereka.

Setelah membaca pemaparan singkat tentang kriteria pemimpin masa depan di atas. Maka penulis mencoba menyimpulkan beberapa poin penting. Pertama, seorang pemimpin harus dapat membawa nilai agama dalam kepemimpinannya. Kedua, pemimpin harus dapat menjalin integrasi politik yang baik dengan masyarakat. Ketiga, seorang pemimpin diharapkan mempunyai visi dan misi yang jelas serta memberikan pengaruh positif bagi masyarakat yang dipimpinnya. Terakhir, pemimpin harus adil terhadap rakyatnya. Karena keadilan akan menjauhkan pemimpin dari kezaliman dan sifat otoritatif.

Diakhir tulisan ini penulis berharap kedepan, semoga lahir kader-kader pemimpin muda yang adil dan mlek dengan kondisi rakyatnya. Khususnya di Nusa Tenggara Barat. Sehingga masyarakat tidak merasa kecewa dan dibohongi oleh janji dan dan slogan-slogan keadilan yang memihak rakyat kecil dan orang miskin. Rakyat sekarang butuh pemimpin yang tidak banyak bicara namun banyak kerja. Rakyat butuh bukti bukan janji.

Wallahua’lam bissowab.

– Penulis adalah Alumni Program Kaderisasi Ulama (PKU) Unida Gontor Angkatan X.

 ————————————–

Referensi Bacaan:

– Abduh,  Muhammad.  1972.  al-A‟mal  al-Kamilah.  Beirut:  al-Muassah  al-Arabiyah  li  al- Dirasah wa al-Nasyr.

– Adian Husaini. 2002. Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya, Jakarta: Gema Insani Press.Ary Ginanjar Agustian. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual ESQ, Jakarta: Penerbit Arga.

– Adian Husaini. 2002. Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya, Jakarta: Gema Insani Press.

– Ibnu Taimiyah.1985. Tugas Negara Menurut Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

– Kamus Cambride Avanced Learner’s Dictionary Third Edition.

– Makalah, Bramastiyo Dhieka Anugrah. 2016. Kriteria Pemimpin Dalam Islam, (Menyingkap Problematika Pemimpin Non-Muslim).

– Reza A.A. Wattimena. 2012. Menjadi Pemimpin Sejati: Sebuah Refleksi Lintas Ilmu, Jakarta Timur: Evolitera.

– Sayyid Quthb.1984. al-Adalah al-Ijtima‟iyah fi al-Islam, terj. Afif Mohammad, Keadilan Sosial Dalam Islam, Bandung: Pustaka.

– Syed Muhammad Naquib al Attas. 1979. Aims and Objectives of Islamic Education, Jeddah: King Abdul Aziz University.

—————————————

[1] Dr. Adhyaksa Dault MENGHADANG NEGARA GAGAL Sebuah Ijtihad Politik, (Jakarta Selatan: Rene Book, 2012), hal,148.

[2] Ibid, hal 147.

[3] Definisi dari kamus on-line Cambride Avanced Learner’s Dictionary Third Edition.

[4] Ibid.

[5] Ary Ginanjar Agustian Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual ESQ, (Jakarta: Penerbit Arga, 2001), hal, 154.

[6] Ibnu Taimiyah, Tugas Negara Menurut Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1985), hal. 181.

[7] Lihat Adian Husaini, Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya, (Jakarta: GIP, 2002). hal. 15.

[8] https://id.wikipedia.org/wiki/Ridwan_Kamil. diakses tanggal 22 Februari 2017 pukul 06:11

[9] Lihat Sayyid Quthb, al-Adalah al-Ijtima‟iyah fi al-Islam, terj. Afif Mohammad, Keadilan Sosial

Dalam Islam, (Bandung: Pustaka, 1984), hal. 124.

[10] Makalah, Bramastiyo Dhieka Anugrah, Kriteria Pemimpin Dalam Islam, (Menyingkap Problematika Pemimpin Non-Muslim), Desember 2016. Hal, 11.

[11] Reza A.A. Wattimena, Menjadi Pemimpin Sejati: Sebuah Refleksi Lintas Ilmu, (Jakarta Timur: Evolitera, 2012.), hal. 35.

[12] Ary Ginanjar Agustian Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual ESQ, (Jakarta: Penerbit Arga, 2001), hal, 159.

[13] Syed Muhammad Naquib al Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, (Jeddah: King Abdul

Aziz University, 1979), hal. 2.

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
“Menteri ESDM Tinjau Lokasi Smelter” Maluk, KOBAR - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius…