Bahaya Cedera Kepala Akibat Kecelakaan Lalu Lintas

KESEHATAN KELUARGA


Oleh: dr. Patrice LWY Sinaga
(Dokter Internsip di RSUD Asy-Syifa’ KSB)


Secara garis besar, kepala terdiri dari 3 komponen utama, yaitu bagian terluar dari tulang kepala, bagian terdalam dari tulang kepala, dan tulang kepala itu sendiri atau tulang kranial atau yang lebih sering kita dengar sebagai tulang tengkorak. Secara berurutan dari luar ke dalam, bagian terluar kepala terdiri dari kulit, jaringan lunak, dan pembuluh darah, lalu tulang kepala (tulang tengkorak) yang sangat keras, kemudian bagian terdalam terdiri dari selaput otak, cairan otak, pembuluh darah, dan organ otak. Otak berada pada bagian terdalam dari kepala. Semua jaringan lunak, tulang kepala, maupun cairan yang menutupi otak ini berfungsi sebagai bantalan dan pelindung otak dari kemungkinan adanya benturan yang berpotensi menyebabkan cedera otak.

Otak merupakan organ yang sangat vital dalam tubuh kita. Pusat pernafasan, kesadaran, sistem jantung pembuluh darah, daya ingat, gerakan, pengaturan suhu tubuh dan nafsu berada di otak dan diatur oleh otak itu sendiri. Otak mempunyai fungsi yang sangat penting pada tubuh kita, sehingga  otak adalah satu-satunya organ yang keseluruhan bagiannya dilindungi oleh tulang yang sangat keras. Kita diciptakan sedemikian rupa sehingga semua letak organ maupun tulang yang ada pada tubuh kita ini tersusun dengan begitu sempurna.

Meskipun otak terlindungi dari banyak komponen kepala, namun benturan pada kepala dapat menyebabkan cedera otak. Hal ini dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti benturan yang sangat kuat, posisi kepala saat benturan, bagian kepala yang mengenai benturan, usia, dan jenis benda yang membentur kepala. Usia tua dan anak-anak sangat rentan mengalami cedera otak. Benda tajam lebih mudah menimbulkan cedera otak.

Jika otak mengalami kerusakan, maka jaringan otak yang rusak tersebut tidak akan pernah sembuh dan berfungsi kembali. Hal ini disebabkan oleh karena sel-sel saraf di otak yang mengalami kerusakan tidak memiliki kemampuan untuk sembuh dan membentuk sel-sel saraf baru, sebaliknya sel-sel tubuh lain yang mengalami kerusakan memiliki kemampuan untuk  sembuh dan membentuk sel-sel baru sehingga organ yang rusak tersebut dapat berfungsi kembali.

Trauma atau benturan pada kepala yang mengakibatkan kerusakan pada setiap komponen kepala yang telah disebutkan di atas dikenal sebagai cedera kepala. Benturan pada kepala dapat diakibatkan oleh benda tumpul, contohnya lantai, jalan lalu lintas, dashboard mobil, maupun benda tajam, contohnya luka tembak. Tidak semua cedera kepala akan menimbulkan kerusakan atau cedera pada otak. Misalnya, kulit kepala yang bengkak akibat terjatuh ke lantai belum tentu menimbulkan cedera otak karena otak terlindung dari berbagai komponen kepala.

Lebih dari 80 persen penderita cedera yang datang ke ruang emergensi fasilitas kesehatan selalu disertai cedera kepala. Dari semua penderita cedera kepala, kejadian yang paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, berupa tabrakan sepeda motor, mobil, sepeda, penyebrang jalan yang ditabrak, dan pengendara yang terjatuh akibat menabrak hewan yang melintas di jalan. Sisanya disebabkan oleh jatuh dari ketinggian, tertimpa benda (misalnya ranting pohon, kayu), benturan saat olahraga, dan korban kekerasan (misalnya luka tembak, golok, parang, batang kayu).

Beratnya cedera kepala dibagi menjadi 3 tingkatan derajat, yaitu cedera kepala ringan, cedera kepala sedang, dan cedera kepala berat. Pembagian derajat cedera kepala ini didasarkan atas skala yang didapat dari hasil pemeriksaan klinis yang dilakukan oleh dokter, yaitu pemeriksaan terhadap respon mata, respon verbal, dan respon gerakan dari penderita cedera kepala. Skala ini dikenal sebagai Skala Koma Glasgow atau Galsgow Coma Scale (GCS). Bagi dokter, pembagian derajat ini bertujuan untuk menentukan tindakan apa yang akan segera dilakukan dalam penanganan setiap kasus cedera kepala.

Cedera kepala dapat menimbulkan 3 kelainan utama, yaitu cedera jaringan lunak kepala (komponen terluar dari tulang kepala), patah tulang kepala atau fraktur tulang kepala (tulang tengkorak), dan cedera otak. Dari ketiga kelainan cedera kepala ini, hal yang paling berbahaya adalah cedera otak. Cedera otak merupakan penyebab kematian utama pada penderita cedera kepala. Semakin berat derajat cedera kepala, semakin besar kemungkinan terjadinya cedera otak.

Apa saja bahaya yang dapat ditimbulkan oleh cedera otak? Bahaya yang paling berat adalah kematian. Jika pusat pernafasan, pusat sistem jantung pembuluh darah, dan pusat kesadaran yang berada di otak mengalami kerusakan, maka penderita biasanya akan meninggal. Bahaya yang lain adalah koma, dimana penderita tidak sadar dan tidak menunjukkan respon terhadap rangsangan sekitar. Penderita tidak berespon ketika diberi rangsangan suara maupun rangsangan nyeri. Penderita koma dapat bertahan dalam waktu lama atau berakhir dengan meninggal. Jarang penderita sadar kembali karena telah terjadi kerusakan otak yang sangat berat.

Selain itu, penderita dapat menjadi kondisi vegetatif. Pada kondisi ini, pasien dalam keadaan setengah sadar namun tidak menunjukkan respon terhadap rangsangan di sekitar. Penderita buka mata namun tidak memberi respon, baik saat diajak bicara maupun saat diberi rangsangan yang lain. Penderita juga tidak memiliki reaksi kognitif terhadap rangsangan. Bahaya lain adalah kelumpuhan, dimana pasien sadar dan menunjukkan respon normal terhadap rangsangan sekitar, namun terdapat bagian tubuh yang tidak bisa digerakkan. Misalnya penderita tidak bisa berbicara dengan jelas, tidak bisa menggerakkan tangan atau kaki.

Sebagai organ yang sangat vital dan harusnya tidak boleh cedera, otak harus terlindung dari setiap benturan atau trauma yang mengancam terjadinya cedera otak. Sehingga, pada saat berkendaraan bermotor maupun mengenderai mobil dalam kecepatan tinggi seperti balapan mobil, diwajibkan menggunakan helm maupun seat belt. Hal kewajiban ini dilakukan supaya mengurangi terjadinya cedera kepala yang berat saat benturan jika terjadi kecelakaan atau mengurangi kemungkinan pengendara terlempar saat kecelakaan sehingga tidak terjadi benturan pada kepala.

Sebelum pengendara mendapat Surat Izin Mengemudi (SIM) dari petugas, penjelasan atau edukasi tentang peraturan-peraturan berlalu lintas pasti diberikan, seperti peraturan mematuhi rambu lalu lintas, mengurangi kecepatan kendaraaan di jalan yang ramai, menggunakan helm saat berkendaraan bermotor, atau menggunakan seat belt saat mengendaraai mobil. Hal-hal inilah yang dapat mengurangi risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas yang berpotensi menimbulkan cedera kepala.

Peraturan-peraturan tersebut sebenarnya sangat sederhana dan dapat kita lakukan. Namun, kenyataannya masih banyak pengendara yang tidak mematuhi berbagai peraturan lalu lintas. Hal-hal berisiko inilah yang menyumbang angka kematian dan kecacatan akibat kecelakaan lalu lintas masih sangat tinggi  Mengapa hal ini bisa terjadi? Setelah membaca tulisan ini, apakah kita masih ingin tidak mematuhi peraturan lalu lintas? Kita pasti sudah sering mendengar ungkapan yang mengatakan, “lebih baik mencegah daripada mengobati”, “lebih baik mematuhi peraturan lalu lintas daripada mengalami kecelakaan lalu lintas”.  ***

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Hajam: Namun Tidak Semua Perijinan Gratis Taliwang, KOBAR - Badan Penanaman Modal Pelayanan Perijinan Terpadu (BPMPPT)…