Waspada Demam Berdarah

Taliwang, KOBAR – Data milik Dinas kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), pasien yang dinyatakan positif terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di bumi pariri lema bariri sampai dengan bulan Januari tahun ini telah mencapai 54 orang.

Jumlah penderita penyakit yang bisa mematikan itu meningkat draktis dari tahun sebelumnya, bahkan diakui DBD merupakan penyakit siklus 5 tahunan. “Saat ini jumlah penderita meningkat dari tahun sebelumnya, tetapi kalau data mingguan untuk saat ini atau setelah ditemukan banyak yang menderita sudah mulai sembuh,” ucap kepala Dikes Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), dr H Syaifuddin yang ditemui dalam ruang kerjanya selasa 3/2 kemarin.

H Syaifuddin tidak membantah jika setiap tahun tetap ada penderita DBD, karena Bumi Pariri Lema Bariri termasuk daerah endemi, tinggal sejauhmana pro aktif masyarakat itu sendiri untuk intens melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), sebab dengan cara itu bisa terhindar dari gigitan nyamuk aedest agypty. “Kita daerah endemi, jadi setiap tahun tetap ada, hanya saja jumlahnya tidak sebanyak saat ini,” lanjutnya.

Disinggung soal upaya yang telah dilakukan Dikes beserta jajarannya, H Syaifuddin menegaskan bahwa berbagai kegiatan telah dilaksanakan sejak september 2014 lalu atau sebelum masuk musim penghujan, tetapi sosialisasi dan program yang dilaksanakan pemerintah akan lebih efektif, jika masyarakat itu sendiri berperan langsung, terutama dalam melaksanakan PSN, termasuk 3 M plus (menguras, penutup, mengubur).

Pada kesempatan itu H Syaifuddin menegaskan bahwa seluruh pasien yang positif DBD dirawat di RSUD KSB, kecuali pihak keluarga pasien yang meminta untuk dirujuk. “Kita memiliki alat kesehatan (Alkes) yang cukup memadai dalam mendeteksi pasien, termasuk dalam perawatan pasien yang positif DBD, jadi tidak perlu harus dirujuk, kecuali atas permintaan sendiri atau pihak keluarga,” terangnya.

Dikes juga telah melakukan fogging (pengasapan) pada beberapa lokasi yang diketahui ada penderitanya, hanya saja yang perlu diketahui oleh masyarakat, fogging bukan salah satu cara untuk membasmi atau mengatasi munculnya penyakit DBD. “Fogging hanya untuk membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik dalam seminggu berikutnya akan dewasa dan bakal menjadi calon penyebar penyakit, sehingga keliru kalau masyarakat memaksa meminta dilakukan fogging,” jelasnya.

Meskipun menyadari bahwa fogging bukan solusi dalam menyelesaikan masalah endemi DBD, H Syaifuddin mengaku sedang membangun komunikasi dengan pihak PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), agar bisa membantu melakukan fogging fokus dalam kota Taliwang. “Saya sudah melayangkan surat permohonan untuk bisa dilakukan fogging fokus dalam kota Taliwang kepada Newmont,” pungkasnya. (kimt)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Taliwang, KOBAR - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sampai akhir tahun 2014 lalu mencapai…