Gedung Graha Fitrah Akhirnya Diterpal

Taliwang, KOBAR – Untuk menyelesaikan masalah rembesan akibat air hujan yang tertampung di atas atap gedung kantor orang nomor satu di KSB, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah setempat. Termasuk terakhir dengan pengaspalan (hotmix) yang menggunakan Dana pemberdayaan dan pengembangan dari PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), namun tetap saja pada beberapa titik masih ada rembesan air, sehingga bisa dikatakan upaya itu belum berhasil.

Solusi terbaru yang diterapkan pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) untuk mengantisipasi munculnya rembesan air dari atap gedung graha fitrah dengan melakukan pemasangan terpal. Kegiatan itu sudah dilakukan, jadi praktis di atap gedung kerja Bupati dan wakil Bupati tidak lagi terlihat lambang helipad.

Semenjak pemasangan terpal tebal seperti jenis yang dipergunakan PT Bumi Harapan Jaya (PTBHJ) untuk pelataran tambak udang Tano, rembesan dianggap sudah tidak ada, meskipun pada awal turun hujan masih terlihat titik rembesan, tetapi setelah kembali dilakukan perbaikan oleh pihak yang ditunjuk, rembesan itu sudah tidak terlihat. “Untuk sementara sudah tidak ada rembesan, namun kami tetap melakukan pengecekan, terutama saat turun hujan,” jelas kabag umum setda, Drs Amir DH Msi, kemarin.

Pada kesempatan itu, Amir sapaan akrab mantan camat Tano itu mengaku, pemasangan terpal pada bagian atap gedung bupati dinilai sebagai langkah praktis, untuk mencegah terjadinya rembesan air yang menyebabkan kerusakan plafon, terutama pada ruang istirahat dan ruang tamu wakil bupati. “Semoga ini menjadi solusi terbaik dalam mengantisipasi rembesan yang telah merusak plafon gedung graha fitrah,” ujarnya.

Dibeberkan Amir, munculnya rembesan lebih disebabkan karena adanya genangan air hujan yang tidak bisa terbuang melalui saluran. Genangan air itu masuk dalam pori-pori aspal yang terpasang, sehingga sulit dihindari adanya kebocoran. Setelah pemasangan terpal, genangan air tetap terlihat, namun tidak bisa tembus sampai menyebabkan rembesan yang akan merusak plafon gedung. “Memang genangan air tetap ada, namun tidak sampai tembus terpal yang dipergunakan itu, karena cukup tebal dan teruji kekuatannya,” ungkapnya.

Amir juga mengaku jika pihaknya tetap melakukan antisipasi pengurasan air yang tergenang, jika terlihat cukup tinggi volumenya, agar tidak terlalu lama berada di atas atap, karena bisa saja akan merusak terpal yang telah terpasang itu. Jika volume air tidak terlalu banyak, diyakini akan habis dengan sendirinya tersengat matahari.

Pekerjaan pemasangan terpal belum dipikirkan untuk dilakukan pada gedung setda, karena diatas atap gedung itu telah dipasang spandek. Meskipun sudah dipasang spandek masih juga terjadi kebocoran. “Di gedung setda memang masih ada kebocoran, sehingga di beberapa titik plafon menjadi rusak dan itu yang sedang kami pikirkan solusinya,” urainya.

Masih adanya kebocoran meskipun telah dipasang spandek lebih pada masalah tekhnis, dimana pada ujung pembuangan air dari spandek terjadi perselisihan ketinggian dengan saluran pembuangan yang berada di atap gedung tersebut, sehingga masih ada tempias air yang menyebabkan munculnya genangan, belum lagi ujung atas pipa pembuangan lebih tinggi dari saluran tersebut, jadi tidak semua air bisa terbuang.

Masih penjelasan Amir, masalah kebocoran di gedung setda sedang dibahas serius, karena ada beberapa solusi yang sedang dipikirkan. Salah satu solusinya, ujung spandek yang dipergunakan untuk membuang air hujan akan tersambung langsung dengan pipa pembuangan atau mungkin atap ditinggikan, agar sejajar dengan ujung spandek. “Sulit saya jelaskan, namun yang pasti pemerintah sedang berupa untuk menghilangkan rembesan air yang menyebabkan kerusakan plafon,” pungkasnya. (kimt)

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) untuk mengantisipasi bocor pada gedung Graha…