Menjadi ‘Tangan Allah’

Suatu hari seorang Badui Arab datang kepada  Husain bin Ali, cucu Nabi Saw.

“Aku memiliki hutang yang aku tidak dapat bayar. Aku datang kepada Anda untuk meminta bantuan karena aku telah mendengar kemuliaan dan kepemurahan Anda,” katanya sesaat setelah mengucapkan salam.

Al-Husain tersenyum lalu balik bertanya, “Aku akan mengajukan tiga pertanyaan kepadamu. Jika kau dapat menjawab pertanyaan pertama, aku akan memberikan uang untuk membayar sepertiga hutangmu. Jika kau menjawab pertanyaan kedua, aku akan memberikan sepertiga yang lainnya. Jika kau dapat menjawab ketiga pertanyaan dengan benar, aku akan memberikan uang yang kau perlukan untuk membayar semua hutangmu.”

Orang Badui itu risau. “Wahai pemimpinku, Anda adalah orang yang sangat berilmu dan aku adalah seorang dungu di hadapan anda,” katanya galau.

“Aku mendengar dari datukku, bahwa kebaikan harus dilakukan kepada seseorang berdasarkan pemahamannya terhadap agama dan kewajiban-kewajibannya kepada Allah,” ujar Al-Husain.

Badui itu berkata, “Bertanyalah, Aku akan memberitahu apa yang aku ketahui. Jika aku tidak memiliki jawaban, aku akan belajar dari Anda dan mengingat jawabannya sebagai bekal masa depanku,”

“Baiklah. Di antara seluruh perbuatan yang baik, manakah yang terbaik?”

“Beriman kepada Allah dan beriman kepada Tauhid-Nya,” sahutnya spontan.

“Apa yang dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan?” tanya beliau lagi.

“Bersandar kepada Allah dan mempercayakan kepada-Nya,” jawabnya mantap.

“Apa yang memberikan manusia kemuliaan?” tanya beliau.

“Ilmu dan sifat pemaaf (atas kesalahan-kesalahan orang lain),” jawabnya

“Jika dia tidak memiliki pengetahuan?”

“Harta dan sifat pemurah.”

“Bagaimana jika dia juga tidak memilikinya?’

“Semoga petir menyambar dan membakarnya, karena dia layak mendapatkannya!” tukasnya.

Imam tersenyum seraya menyerahkan kepada badui itu sejumlah uang yang melampaui biaya melunasi hutangnya. Sebelum berpisah, Imam menghadiahkan cincin kepadanya.

Pembaca yang berpuasa,

Tauhid dan keyakinan akan keberadaan Zat Adi Kodrati adalah tanda masuk ke dalam ruang ketulusan dan kebeningan yang bebas dari polusi pamrih dan debu takabur. Hanya orang yang percaya akan Tuhan Maha Penyiksa-lah yang tidak melakukan dosa terutama di bulan Ramadhan. Dengan Tauhid, kita dapat mencegah diri untuk tidak melakukan tindakan aniaya terhadap diri sendiri dan orang lain. Mana mungkin seseorang berani melakukan perbuatan dosa bila ia yakin bahwa semua perbuatannya akan diaudit oleh Yang Maha Adil…

Pembaca tercerahkan,

Sering kali kita tidak melakukan perbuatan berdasarkan klasifikasi urgensi dan kewajibannya. Kadang kita melakukan sejumlah perbuatan yang menurut kita sangat penting, padahal menurut urutan syariat, ada yang lebih wajib untuk kita lakukan.

Kita kadang karena kasihan dan iba, meminjam uang untuk kita pinjamkan atau kita sumbangkan kepadanya, padahal boleh jadi, kita akan menyusahkan orang yang meminjamkan uang itu saat kita tidak mampu melunasi hutang itu. Membantu orang apalagi teman yang sedang kesulitan selama baik dan terpuji, namun kita mesti sadar bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban sesuai dengan potensi dan kemampuan yang telah diberikannya.

Beruntunglah orang yang berhasil menyandingkan pengetahuan dan toleransi dan memaafkan. Ia mulia karena dengan pengetahuan dan kesabarannya, menerima ragam manusia dengan aneka karakter, kebiasaan, cara komunikasi, latar belakang dan kecenderungan. Ia menjadi mulia karena mengorbankan egonya demi orang lain yang lebih awam dari dirinya. Itulah pengorbanan yang layak ditebus dengan hamparan karunia, limpahan pahala dan sentuhan kasih Allah.

Beruntunglah orang yang mampu menggabungkan kekayaan dengan kedermaan. Kekayaan yang dimilikinya tidak dipandangnya sebagai keberuntungan namun jalan beribadah dan lorong rezeki Allah untuk orang lain.

Ia berderai tangis  saat hartanya berkurang bahkan lenyap oleh serbuan para fakir miskin. Ia tersenyum bukan karena menikmati rasa ‘pahlawan’, namun karena terharu bahagia saat dinobatkan sebagai ‘Tangan Allah’ yang mengantarkan sesuap nasi, secercah senyum dan sebaris harapan akan masa depan yang lebih baik di negeri kita yang sedang meratap ini. [MuhsinLabib]

Sumber

KOMENTAR

Komentar

You May Also Like

Leave a Reply

MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
MEMBIDIK REALITAS TERSERAK
Dia arsitek pengukir sejarah toleransi beragama di negeri ini. Bung Karno menjulukinya sebagai “by the…